»
S
I
D
E
B
A
R
«
KERANGKA ACUAN PENGEMBANGAN KURIKULUM PGTK ISLAM
Oct 9th, 2011 by admin

OLEH : DRS. KHAERUDIN
Dosen Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan FIP UNJ

Disampaikan dalam acara Workshop Kurikulum Program Diploma PGSDI dan PGTKI, yang diselenggarakan oleh Kopertais Wilayah I DKI Jakarta, 30 Juni 2001

A. Pendahuluan
Sejak dibubarkannya Sekolah Pendidikan Guru (SPG) pada awal tahun ’90-an, penyediaan tenaga guru yang profesional sempat mengalami kevakuman. Alasan pembubaran SPG ini diantaranya adalah karena kualifikasi lulusan SPG dianggap sudah tidak lagi memadai untuk membina dan membimbing anak-anak sekolah. Namun sayangnya pemerintah tidak segera mendirikan lembaga baru sebagai pengganti yang dianggapnya memadai untuk mendidik para guru pada tingkat TK dan SD tersebut. Padahal kebutuhan guru di masyarakat semakin banyak dengan semakin menjamurnya TK, baik itu TK umum, TK Islam, Kelompok Bermain (Play Group), dan TK Alquran serta penitipan anak. Dihampir setiap sudut kampung, saat ini, telah terdapat lembaga pendidikan jenis ini. Read the rest of this entry »

Popularity: 13% [?]

Mencapai Kebahagiaan
Sep 7th, 2011 by admin

Kalau kita tanya setiap orang yang ada di sekitar kita tentang apa yang mereka dambakan dalam kehidupannya, pasti sebagian besar diantara mereka menyebutkan kata bahagia. Ya, kebahagiaan adalah menjadi dambaan hampir setiap orang dalam menjalani kehidupannya. Permasalahannya adalah apakah mereka faham apa itu kebahagiaan. Kebahagian model apa yang mereka dambakan, dan hal yang paling penting adalah apa yang mempengaruhi kebahagiaan itu bisa terwujud.
Dalam kaitan dengan pertanyaan terakhir, Prof. Dr. Komarudin Hidayat (Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta), dalam ceramaha Halal Bihalal sivitas akademika UNJ, Rabu, 7 September 2011, merujuk pada satu buku berjudul The Happiness, menyatakan bahwa terdapat tujuh faktor yang akan mempengaruhi kebahagiaan seseorang, yaitu:
1. Hubungan keluarga (partnership of family).
2. Situasi finansial (Financial situation)
3. Pekerjaan (Job/work)
4. Teman dan komunitas (Friends an community)
5. Kesehatan (Health)
6. Kemerdekaan pribadi (Personal freedom)
7. Nilai pribadi (Personal values)

Popularity: 16% [?]

RANAH OLAH PIKIR KI HAJAR DEWANTARA
Mar 11th, 2011 by admin

Oleh: Khaerudin

Pengantar
Bila kita berbicara tentang klasifikasi hasil belajar, rujukan utama kita selalu mengacu pada taksonomi Bloom, yang membagi hasil belajar pada tiga ranah, yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik. Sesungguhnya kita memiliki banyak tokoh pendidikan yang mengemukakan hasil belajar/pendidikan yang lebih komprehensif. Namun memang disayangkan dalam berbagai kajian akademik yang dilakukan para akademisi jarang yang mengacu pada “taksonomi” yang dikemukakan oleh para tokoh pendidikan kita. Kondisi ini tentu menimbulkan pertanyaan mengapa hal itu terjadi? Apakah pendapat para tokoh pendidikan kita tidak “membumi” sehingga tidak dapat diimplementasikan? Atau apakah karena hasil pemikiran para tokoh kita tidak dapat dikategorikan sebagai sebuah teori sehingga tidak layak dijadikan rujukan kajian akademik? Read the rest of this entry »

Popularity: 31% [?]

Pelatihan PTK dengan E-Learning
Aug 20th, 2010 by admin

Program Pelatihan PTK dengan E-learning ini disediakan untuk umum. Peserta akan didampingi secara online dalam melakukan PTK, mulai dari pemahaman prinsip-prinsip PTK, penulisan proposal, pembuatan instrumen, pelaksanaan penelitian, sampai pada penulisan laporan. Selain uraian materi, peserta difasilitasi dengan Forum dan Chating untuk berkomunikasi dengan tutor dan peserta lain. Untuk mengetahui kemajuan belajar, peserta dapat mengerjakan Kuisdan Tes yang hasilnya dapat diketahui secara langsung, disertai dengan umpan baliknya. Peserta juga dapat menuangkan ide-idenya melalui Blog, yang dapat dibaca oleh peserta lain.

Belajar lebih lanjut

Popularity: 49% [?]

PENDIDIKAN ISLAM DALAM KELUARGA DAN MASYARAKAT
Aug 19th, 2010 by admin

Oleh : Fitri Lestari Issom, S. Pd., M. Si
(fitri_issom@yahoo.com)

Abstrak

Pendidikan dalam Islam memiliki kedudukan yang tinggi. Hal ini dibuktikan dengan disebutkannya konsep pendidikan dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits berulang kali.
Pendidikan hendaknya jangan hanya dituangkan dalam pengetahuan semata-mata kepada anak didik, tetapi harus juga diperhatikan pembinaan moral, sikap dan tingkah laku. Oleh karena itu, dalam setiap pendidikan, pengetahuan harus ada pendidikan moral dan pembinaan kepribadian yang sehat. Pendidikan seperti itu ada dalam pendidikan Islam. Pendidikan Islam menurut Ashraf (1993) adalah pendidikan yang melatih sensibilitas individu sedemikian rupa, sehingga dalam perilaku mereka terhadap kehidupan, langkah-langkah, keputusan-keputusan, serta pendekatan-pendekatan mereka terhadap semua ilmu pengetahuan mereka diatur oleh nilai-nilai etika Islam yang sangat dalam dirasakan. Mereka dilatih dan secara mental sangat berdisiplin sehingga mereka ingin memiliki pengetahuan bukan saja untuk memuaskan rasa ingin tahu intelektual atau hanya untuk manfaat kebendaan yang bersifat duniawi, tetapi juga untuk tumbuh sebagai makhluk yang rasional, berbudi, dan menghasilkan kesejahteraan spiritual, moral, dan fisik keluarga mereka, masyarakat, dan umat manusia (Ashraf, 1993).
Untuk itu, pendidikan Islam harus mulai diperkenalkan, diajarkan, dan dibiasakan sejak dini. Pelaksanaannya harus dimulai sejak di dalam lingkungan keluarga dan berlanjut ke lingkungan masyarakat.
Penerapan pendidikan Islam hanya bisa terlaksana dalam rumah tangga Islami yang bertujuan menciptakan Rumahku Surgaku / Baiti Jannati. Bentuk penerapan pendidikan Islam dalam keluarga dimulai bukan hanya ketika anak telah lahir ke dunia, tetapi jauh sebelum itu, yaitu sejak pemilihan pasangan hidup, saat kehamilan, pemilihan nama, hingga memilih teman yang baik bagi anak.
Di samping itu, penerapan pendidikan Islam dalam masyarakat bertujuan untuk menciptakan masyarakat yang sholeh sehingga terciptalah kebahagiaan dunia dan akhirat. Bentuk penerapan pendidikan Isalm dalam masyarakat diantaranya membiasakan menolong masayarakat Islam, membina hubungan di kalangan muslim memberi sumbangan dalam perkembangan masyarakat, dan mengukuhkan identitas budaya Islam.

Kata Kunci : Pendidikan Islam, Keluarga, Masyarakat. Read the rest of this entry »

Popularity: 52% [?]

HASIL UJIAN NASIONAL
Apr 27th, 2010 by admin

Hasil ujian nasional (UN) untuk tingkat SMA/SMK telah diumumkan pada Senin, 26 April 2010. Sudah menjadi hukum alam, hasil dari ujian inipun terbagi menjadi dua kelompok, yaitu mereka yang lulus dan tidak lulus. Secara nasional terdapat 154.079 siswa tidak lulus atau sekitar 10% dari total peserta ujian yang mencapai 1.522.162 siswa.
Hal yang perlu mendapat perhatian kita adalah bagaimana suasana dan ekspresi yang ditunjukkan oleh anak-anak kita sesaat dan setelah pengumuman UN itu diterima. Hampir seluruh anak-anak didik kita bahkan para orang tua dan guru mereka “STRESSSS” menunggu pengumuman UN keluar, karena ini menyangkut nasib dan masa depan mereka. Bisa dibayangkan sekitar 1,5 juta anak-anak muda kita (calon penerus bangsa) megalami kondisi stress massal. Bahkan kondisi stress ini bisa terjadi pada saat mereka akan menghadapi UN yang lalu. Itu berarti anak-anak kita hampir selama satu bulan berada dalam suasana stress.
Kondisi stress memuncak dan meledak pada saat mereka menerima pengumuman hasil UN dan dinyatakan TIDAK LULUS. Tidak sedikit diantara mereka yang berteriak histeris, pinsan bahkan ada juga yang melalukan “pemberontakan”. Sebaliknya mereka yang dinyatakan LULUS langsung mengekspresikan kegembiraannya dengan melakukan “pesta” corat-coret baju bahkan pada sekujur tubuh dengan spidol dan cat dan dilanjutkan dengan arak-arakan (konvoi) motor di jalan raya, yang pasti mengganggu ketertiban umum. Iya memang ini dilakukan oleh sebagian kecil anak-anak didik kita. Tapi bagaimanapun juga ini menggambarkan hasil dari pendidikan kita yang diuji dengan menggunakan model UN. Hal yang ingin saya pertanyakan adalah apakah iya anak-anak seperti di atas – yang dinyatakan telah LULUS dari suatu satuan pendidikan yang memiliki standar kompetensi lulusan yang sesungguhnya sangat ideal – adalah yang anak-anak yang kita harapkan? Apakah iya UN telah mampu menilai anak-anak didik kita sehingga pantas dinyatakan LULUS sesuai dengan standar kompetensi lulusan secara komprehensif?
Mari kita renungkan lebih jauh…..

Popularity: 56% [?]

Liku-liku Ujian Nasional
Mar 22nd, 2010 by admin

Halaman ini berisi berita tentang liku-liku Ujian Nasional yang dilihat dari sisi siswa SMA/SMK. Berita dikutip dari Liputan6.com dan okezone.com. Halaman ini hanya ingin menggambarkan betapa hiruk pikuknya anak-anak kita dalam menghadapi ujian, karena ujian nasional akan sangat menentukan “nasib” mereka di masa datang. Read the rest of this entry »

Popularity: 59% [?]

ISLAM AND MODERNITY
Mar 21st, 2010 by admin

By Rusydy Zakaria, M.Ed.M.Phill.

Abstraks
Artikel ini membahas thema tentang Islam dan Modernitas. Pencarian hubungan antara Islam dan Modernitas menjadi landasan studi ini dilakukan. Terdapat tiga isu yang akan dibahas. Pertama akademik debat tentang Islam dan Modernitas dengan focus pada tiga teori besar: Weber, Marxism, liberalisme dan neo liberlisme. Kedua pada isu tentang tekanan kontemporer terhadap Islam dalan konteks modernitas. Ketiga tentang respon kaum muslim terhadap modernitas. Dalam artikel ini dibahas tentang bagimana Islam sebagai sebuah system ideology dunia memainkan peran yang sigifikan di dalam proses modernitas. Juga artikel ini akan mendiskusikan berbagai tingkat respon kaum muslim terhadap modernitas, mulai dari yang sangat konservatif sampai dengan yang radikal. Terakahir, artikel ini memberi ulasan pula dalam kontek pendidikan Islam; yakni bagaimana pendidikan Islam memberikan respon terhadap isu sekulariasasi dan demokrasi sebagai impak langsung dari modernitas).
Kata kunci: Islam dan Modernitas Read the rest of this entry »

Popularity: 98% [?]

ISLAMIC EDUCATION AND REINTEGRATION OF SCIENCES
Mar 21st, 2010 by admin

ISLAMIC EDUCATION AND REINTEGRATION OF SCIENCES: Developing Models in the Age of Global Competition
Oleh: Azyumardi Azra
Professor of history & Director, Graduate School
Syarif Hidayatullah State Islamic University, Jakarta, Indonesia

“In the early centuries of Islamic civilization the broadest possible learning was widely supported by orthodox Muslim precepts. However, in time, an opposing doctrinal trend gained strength. Not only the limitation but also the “dangers” of knowledge were increasingly described by religious authorities…Limits to the scope of permissible learning eventually came to be defined by religious scholars, and philosophical and scientific investigation came under increasing attack” (Turner 1995:18). Read the rest of this entry »

Popularity: 78% [?]

Pembelajaran (Tidak) Taat Hukum oleh Depdiknas
Nov 27th, 2009 by admin

Mahkamah Agung (MA) telah memutuskan melarang Ujian Nasional (UN). Informasi ini diperoleh dari info perkara pada situs Mahkamah Agung (MA) bernomor register 2596 K/PDT/2008 tanggal 14 September 2009. Menanggapi putusan tersebut Mendiknas bersikeras untuk melaksanakan Ujian Nasional (UN) tahun 2010. Ujian Nasional utama akan tetap dilaksanakan sesuai rencana, bulan Maret 2010. Adapun alasannya, karena sampai saat ini masih belum menerima putusan Mahkamah Agung (MA) terkait penolakan kasasi tentang UN.
Bila benar Mendiknas tetap pada pendiriannya, siapa lagi di negeri ini yang dapat dijadikan suri tauladan bagi anak-anak bangsa untuk taat pada hukum yang berlaku. Bukankah “pembangkangan” itu sekaligus sebagai pembelajaran yang diberikan oleh petinggi lembaga dunia pendidikan kepada anak-anak bangsa yang sedang mencari jati diri untuk tidak taat pada hukum. Mau menjadi apa bangsa ini ke depan kalau anak-anak bangsa, yang nota bene calon penerus bangsa, telah “dididik” dan diberi contoh untuk tidak taat pada hukum.
Mari kita buka pikiran dengan jernih untuk memikirkan pendapat dan masukan dari masyarakat, yang menyoroti UN ini dengan berbagai sudut pandangnya, seperti dari sudut pandang ilmu psikologi, ilmu pendidikan, proses pembelajaran, ilmu evaluasi, ilmu hukum, dll. Tidak sedikit kajian yang dilakukan berbagaikalangan, baik yang bersifat teoritik maupun empirik, yang menunjukkan UN sesungguhnya telah membawa kualitas pendidikan kita terpuruk. Kualitas pendidikan yang sesungguhnya, yaitu menghasilkan manusia yang utuh sebagaimana diamanatkan oleh undang-undang.

Popularity: 14% [?]

»  Substance: WordPress   »  Style: Ahren Ahimsa