Pencarian

Custom Search

LANDASAN ORGANISATORIS PENGEMBANGAN KURIKULUM

Dr. Khaerudin, M.Pd.
Dosen Teknologi Pendidikan UNJ

Konsep Dasar
Kurikulum diartikan sebagai kumpulan pengalaman belajar yang harus dipelajari oleh siswa untuk menguasai kompetensi tertentu, yang diperlukannya untuk menumbuhkan dan mengembangkan potensi dirinya, serta yang dibutuhkan untuk bisa hidup, berkembang, dan berkontribusi dalam masyarakatnya. Merujuk pada pengertian kurikulum tersebut, maka apabila kita mengembangkan suatu kurikulum untuk suatu lembaga pendidikan pada satu jenjang dengan rentang waktu bertahun-tahun (6 tahun untuk SD, misalnya) berarti kita menata dan mengelola kumpulan pengalaman belajar tersebut agar menjadi fungsional, dan mudah dipelajari. Dengan kata lain kita harus mengorganisir pengalaman belajar tersebut dan mendesainnya menjadi suatu rangkaian kegiatan belajar yang bermakna, baik dilihat dari aspek keluasan (horisontal) maupun tata urutan dan kedalaman (vertikal) pengalaman belajar yang harus dikuasai siswa sesuai dengan tingkat perkembangan dan kebutuhannya.

Organisasi Horizontal dan Vertikal
Ada dua pola organisasi yang harus diperhatikan dalam pengembangan kurikulum, yaitu organisasi horisontal dan vertikal. Organisasi horisontal adalah pola pengelolaan pengalaman belajar dilihat dari hubungan antara pengalaman belajar satu dengan pengalaman belajar lainnya pada saat/waktu yang bersamaan (dalam satu waktu, misalnya dalam satu hari, satu semester, satu kelas, dll). Bagaimana menetapkan pengalaman belajar-pengalaman belajar yang akan disajikan dalam satu hari atau satu minggu tertentu, agar smooth dipelajari oleh siswa, agar tetap saling mendukung. Dalam mengelola pengalaman belajar secara horisontal ini, yang harus diperhatikan adalah beban belajar yang harus ditanggung oleh siswa dalam rentang waktu tersebut, dan variasi atau kombinasi jenis pengalaman belajar yang harus dipelajari (scope). Artinya dalam organisasi horisontal ini, perlu dipertimbangkan kemampuan siswa dalam mempelajari sesuatu dalam rentang waktu yang tersedia. Berapa banyak pengalaman belajar yang bisa dipelajari siswa dalam waktu satu hari atau satu minggu. Biasanya beban belajar ini dikaitkan dengan SKS atau jumlah mata pelajaran. Di samping itu juga perlu dipertimbangkan sinkronisasi antara satu mata pelajaran dengan mata pelajaran yang disajikan. Sebaiknya dipilihkan serangkaian mata pelajaran yang memiliki keterkaitan yang erat, agar dalam mempelajarinya menjadi satu kesatuan atau utuh, dan kombinasi antara mata pelajaran yang dipersepsikan sulit dengan yang mudah, atau mata pelajaran yang sangat serius (akademik) dengan yang menyenangkan atau memerlukan gerak tubuh.
Organisasi vertikal adalah pola pengelolaan berbagai pengalaman belajar dilihat dari aspek waktu atau jenjang. Dalam organisasi vertikal harus diperhatikan bagaimana hubungan dan/atau urutan pengalaman belajar pada semester satu dengan semester dua; bagaimana hubungan antara pengalaman belajar untuk kelas 1 dengan kelas 2, kelas 3, dst; bagaimana pengalaman belajar yang disajikan untuk siswa SD dengan untuk siswa SMP dan demikian juga dengan pengalaman belajar untuk siswa SMP dengan untuk siswa SMA. Dengan kata lain, organisasi vertikal bicara tentang urutan (sequence) penyajian pengalaman belajar yang akan dipelajari para siswa. Dalam kaitan ini, tentu saja urutan pengalaman belajar harus ditata sedemikian rupa agar mudah dipelajari dan dikuasai oleh siswa. Jangan sampai terjadi penyajian yang tumpang tindih (overlap) yang terlalu jauh, atau pengulangan pengalaman belajar yang sudah dipelajari siswa di satu jenjang, dipelajari lagi di jenjang berikutnya. Sebaliknya jangan sampai terjadi ada gap (jarak) antara pengalaman belajar di satu jenjang ke jenjang berikutnya, yang membuat pengalaman belajar yang dipelajari siswa terjadi lompatan (jumping). Kalau hal ini terjadi, akan menyebabkan siswa mengalami kesulitan. Apalagi kalau hal ini terjadi pada bidang-bidang eksak, yang urutannya sangat ketat, karena antara satu pengalaman belajar dengan pengalaman belajar berikutnya bersifat khirakis.

Sistem kelas reguler; SKS, Modul
Dalam mengelola sejumlah pengalaman belajar yang harus dikuasai siswa (kurikulum) juga harus diputuskan apakah pengalaman belajar tersebut akan dikelola dengan sistem reguler (mata pelajaran atau bidang studi), satuan kredit semester (SKS), atau modul. Tentu saja masing-masing sistem memiliki karakteristik sendiri yang berbeda dengan sistem lainnya. Pengalaman belajar yang dikelola dalam sistem reguler akan dibuatkan dalam bentuk mata pelajaran atau bidang studi. Dalam sistem ini, semua siswa diperlukan sama. Mereka harus mempelajari pengalaman belajar tersebut dalam waktu dan jumlah yang sama. Misalnya dalam satu semester mereka, tanpa kecuali, harus mempelajari sejumlah pengalaman belajar yang dikemas dalam 10 mata pelajaran.
Dalam sistem satuan kredit semester (SKS), pengalaman belajar yang harus dikuasai siswa dikelola dalam mata pelajaran, namun setiap mata pelajaran diberi bobot belajar, setelah memperhitungkan tingkat kesulitan dan kedalaman materi pelajarannya. Artinya mata pelajaran yang memiliki ruang lingkup yang luas dan memiliki tingkat kesulitan yang tinggi akan diberi beban SKS lebih tinggi.
Sementara dalam sistem modul, pengalaman belajar yang harus dikuasai oleh siswa dikelola dalam sistem belajar mandiri, dimana setiap siswa bisa belajar dan menyelesaikan tugas belajarnya sesuai dengan tingkat kecepatannya masing-masing. Dengan sistem modul, maka setiap siswa bisa menyelesaikan rangkaian kegiatan belajarnya tanpa harus menunggu temannya selesai, sehingga bagi mereka yang memiliki kemampuan belajar yang cepat dapat menyelesaikan tugas belajarnya lebih cepat. Dalam sistem ini biasanya tidak mengenal sistem semester, karena mereka belajar dengan sistem maju berkelanjutan (continous progress).

Macam-macam Desain Kurikulum
Secara umum desain kurikulum yang paling populer digunakan adalah Kurikulum Berpusat pada Mata Pelajaran (The Subject-Centered Curriculum), Kurikulum Bidang Studi (Broad-Field Curriculum), Kurikulum Terpadu(Integrated Curriculum), Kurikulum Spiral, Kurikulum Belajar Tuntas (Mastery Learning), Kurikulum Pendidikan Terbuka (Open Education), dan Kurikulum Pemecahan Masalah (Problem Solving).

Desain Kurikulum Berpusat pada Mata Pelajaran (The Subject-Centered Curriculum).
Sesuai dengan namanya, desain kurikulum ini fokus pada mata pelajaran yang akan diajarkan kepada siswa. Kurikulum ini berisi kumpulan mata apelajaran yang harus dipelajari siswa selama rentang waktu tertentu sesuai dengan jenjang pendidikannya. Biasanya desain kurikulum ini tidak memiliki tujuan secara eksplisit yang menuntut siswa menguasai kompetensi tertentu. Tujuan kurikulum ini bersifat implisit yang menunjukkan pada tuntutan agar siswa mempelajari dan menguasai materi pelajaran atau pengalaman belajar yang sudah tersusun ke dalam sejumlah mata pelajaran.
Desain kurikulum sejenis ini ada yang dikenal dengan nama desain kurikulum dengan mata pelajaran terpisah (Separated Subject Curriculum). Disebut demikian, karena dalam desain kurikulum ini, antara mata pelajaran yang satu dengan mata pelajaran lainnya tidak ada hubungannya. Dalam mempelajari satu mata pelajaran tidak pernah dihubungkan atau dikaitkan dengan mata pelajaran lainnya. Pada saat siswa mempelajari mata pelajaran biologi, siswa fokus hanya pada materi biologi secara mandiri, tidak pernah dikaitkan dengan mata pelajaran kimia, fisika, bahasa, apalagi dengan lingkungan sekitar siswa. Demikian juga pada saat siswa belajar mata pelajaran ekonomi, tidak dikaitkan dengan mata pelajaran sosiologi, geografi, atau mata pelajaran lain yang sebenarnya bisa dihubungkan dengan kegiatan ekonomi.
Dalam sejarah perkembangan kurikulum di Indonesia, desain kurikulum seperti ini pernah digunakan di sekolah di Indonesia, yaitu kurikulum tahun 1968 dan sebelumnya. Kurikulum ini berisi sejumlah mata pelajaran yang masing-masing berdiri sendiri, seperti ada mata pelajaran menulis, membaca, mengarang, tata bahasa, ilmu hayat, fisika, kimia, sejarah, ekonomi, geografi, dll.

Desain Kurikulum Bidang Studi (Broad-fields Curriculum)
Desain kurikulum ini mengelompokkan sejumlah mata pelajaran yang memiliki fokus kajian yang sama menjadi satu bidang kajian atau bidang studi. Mata pelajaran sejarah, ekonomi, sosiologi, antropologi adalah diantara mata pelajaran-mata pelajaran yang mempelajari masalah-masalah sosial. Oleh karena itu mata pelajaran-mata pelajaran tersebut dikelompokkan ke dalam satu bidang kajian atau bidang studi yang disebut dengan ilmu sosial (Social Sciences). Dalam kurikulum SD selama ini disebut dengan bidang studi Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Demikian juga dengan mata pelajaran ilmu hayat atau biologi, fisika, kimia, bumi dan antariksa, karena mata pelajaran-mata pelajaran tersebut mengkaji masalah-masalah alam, maka dikelompokkan menjadi bidang studi Ilmu Pengetahuan Alam (Natural Sciences). Penggabungan sejumlah mata pelajaran menjadi satu bidang studi ini, dengan cara menghilangkan batas-batas yang menjadi ciri mata pelajaran tersebut.
Dalam perkembangan kurikulum sekolah di Indonesia, khususnya untuk kurikulum SD, desain kurikulum ini pernah digunakan dalam kurikulum SD tahun 1975 sampai kurikulum 2006. Di dalam kurikulum tersebut, tidak lagi digunakan istilah mata pelajaran, tetapi sudah menggunakan istilah bidang studi. Di dalamnya terdiri dari sejumlah bidang studi, seperti Pendidikan Agama, Pendidikan Moral Pancasila, Pendidikan Olahraga dan Kesehatan, Pendidikan Kesenian, Bahasa Indonesia, Bahasa Daerah, IPS, Matematika, dan IPA, serta sejumlah bidang studi keterampilan. Dengan desain kurikulum ini, maka yang dipelajari siswa menjadi lebih utuh.

Desain Kurikulum Terpadu (Integrated Curriculum)
Desain kurikulum ini melebur (fusi) semua mata pelajaran menjadi satu dengan menghilangkan batas dan ciri mata pelajaran masing-masing. Pengamalaman belajar atau materi yang disajikan dalam kurikulum ini tidak merujuk pada salah satu mata pelajaran atau bidang studi, tetapi merujuk pada satu tema tertentu. Daftar kajian yang akan dipelajari oleh siswa berisi topik-topik atau tema-tema yang bisa dibahas dari berbagai disiplin ilmu. Dengan demikian dalam kurikulum yang didesain dalam bentuk integrated curriculum tidak ada lagi nama mata pelajaran atau bidang studi, yang ada adalah tema.
Dalam perkembangan kurikulum di Indonesia, kurikulum sekolah yang secara konsisten menggunakan desain kurikulum terintegrasi sejak tahun 1975 adalah kurikulum TK. Dalam kurikulum TK tidak akan ditemukan nama mata pelajaran atau bidang studi. Di dalamnya hanya ada sederatan tema dan sub-tema yang disusun secara gradul mulai dari tema yang terdekat dengan diri anak sampai ke tema yang terjauh dengan mereka. Diantara tema-tema yang menjadi bahasan anak-anak di TK adalah tema Diriku, Keluargaku, Lingkunganku, Binatang, Kendaraan, Tanaman, dst. Implementasi dari kurikulum ini adalah pada saat membahas suatu tema akan dilihat dari berbagai sudut pandang (perspektif), seperti dari sudut pandang kemampuan berbahasa, lingkungan, kesehatan, dll. Sebagai contoh, pada saat membahas teman Keluargaku, maka pembicaraan akan diarahkan pada bagaimana siswa bisa menceritakan keluarganya (kemampuan berbahasa), menceritakan tugas dan kewajiban masing-masing anggota keluarga (sosial), menghitung jumlah anggota keluarga (bergitung), menyanyikan lagu keluargakua (seni musik), mewarnai anggota keluarga (seni rupa), dll.

Popularity: 1% [?]

Leave a Reply

 

 

 

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>