Pencarian

Custom Search

LANDASAN SOSIOLOGIS PENGEMBANGAN KURIKULUM

Oleh: Dr. Khaerudin, M.Pd.
Dosen Teknologi Pendidikan UNJ

Untuk membahas topik di atas, kita perlu mengkaji dan menjawab pertanyaan berikut: Apa yang dimaksud dengan landasan sosiologis dalam pengembangan kurikulum? Mengapa kurikulum harus memiliki landasan sosiologis? Masyarakat yang mana dan seperti apa yang harus dijadikan landasan pengembangan kurikulum?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut merupakan pertanyaan mendasar yang harus dipahami dan disadari oleh para pengembang kurikulum. Baiklah kita bahas satu per satu. Yang dimaksud dengan landasan sosiologis dalam pengembangan kurikulum adalah bahwa dalam proses pengembangan kurikulum harus memperhatikan dan mempertimbangkan karakteristik masyarakat dimana kurikulum itu akan dilaksanakan. Setiap sistem sosial masyarakat pasti memiliki karakteristik yang berbeda. Karakteristik suatu masyarakat bisa dilihat dari berbagai kondisi, seperti kondisi sosial ekonomi, kondisi geografi, kondisi lingkungan sosial budaya, adat istiadat, dan lain-lain. Dengan kata lain, kurikulum yang dikembangkan harus berisi sejumlah kompetensi seperti kemampuan akademik, nilai, sikap perilaku, kepercayaan, adat istiadat yang dibutuhkan siswa untuk dapat berdaptasi, berkembang, berkontribusi, dan minimal untuk mempertahankan diri (survive) dalam kondisi masyarakat dimana mereka tinggal.

Mengapa itu harus dilakukan? Karena kurikulum yang dikembangkan akan dijadikan acuan oleh anak-anak untuk mempelajari berbagai pengalaman hidupnya. Apabila kurikulum tersebut dikembangkan dengan mengacu pada masyarakat industri, maka anak-anak yang belajar menggunakan kurikulum tersebut akan mempelajari berbagai kompetensi untuk bisa hidup dan berkembang di lingkungan masyarakat industri dengan berbagai karakteristiknya. Hal ini tentu akan sangat membantu anak-anak yang memang hidup di lingkungan masyarakat industri. Mereka telah memiliki sejumlah kompetensi yang menjadi tuntutan masyarakatnya, baik itu hard-skills maupun soft-skills nya, sehingga akan terhindar dari berbagai konflik sosial, baik yang disebabkan oleh faktor sosial ekonomi, budaya, adat-istiadat ataupun norma dan nilai-nilai religius yang dianut masyarakat tersebut. Dalam kondisi seperti ini, kurikulum yang dikembangkan sangat relevan, dan efektif dalam menyiapkan anak-anak menjadi anggota masyarakat industri yang baik.

Permasalahan akan muncul apabila kurikulum tersebut digunakan dan dipelajari oleh anak-anak yang hidup di lingkungan masyarakat agraris. Mengapa? Karena itu berarti karakteristik yang dimiliki anak-anak menjadi tidak relevan dengan karakteristik masyarakatnya. Dengan kata lain, akan terjadinya gap antara karakteristik yang dimiliki anak-anak dengan karakteristik masyarakat tempat mereka hidup. Salah satu gap yang sangat mungkin muncul adalah adanya gap antara kebutuhan tenaga kerja dengan ketersediaan tenaga kerja yang ada. Hal ini akan berakibat pada anak-anak yang telah mengenyam pendidikan dengan menggunakan kurikulum yang berbasis pada masyarakat industri menjadi pengangguran atau mereka bermigrasi ke perkotaan, karena kompetensi yang mereka miliki tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat agraris. Uraian ini juga ingin menegaskan bahwa kompetensi yang diperlukan oleh anak-anak yang hidup dalam masyarakat dengan kondisi geografis di perkotaan berbeda dengan mereka yang hidup di daerah pedesaan dan pesisir. Tuntutan terhadap anak-anak yang hidup di Jakarta dengan kondisi sosial budaya yang metropolis sangat berbeda dengan anak-anak yang hidup di masyarakat yang masih memegang budaya tradional yang ketat, atau masyarakat yang lebih religius, seperti di Bali, di Aceh, dan di beberapa daerah lain yang memegang nilai-nilai agama yang sangat kuat dalam kehidupan bermasyarakatnya. Dengan kata lain kurikulum yang kita kembangkan harus mampu mengembangkan karakteristik siswa yang sesuai dengan karakteristik masyarakat dimana kurikulum itu akan dilaksanakan agar mereka bisa berpartisipasi aktif dan berkontribusi positif dalam perkembangan masyarakatnya, sehingga anak yang lulus dari suatu sekolah tidak menjadi beban apalagi “sampah” masyarakat.

Pertanyaan lebih lanjut adalah kurikulum yang kita kembangkan itu akan digunakan oleh anak-anak yang berasal dari kelompok masyarakat mana dan bagaimana karakteristik masyarakat tersebut? Dalam menjawab pertanyaan ini harus dilihat dari dua dimensi waktu, yaitu masa kini dan terutama masa akan datang. Kurikulum yang kita kembangkan harus menyesuaikan dengan kondisi masyarakat saat ini, saat dimana anak-anak sedang tumbuh dan berkembang. Hal ini dilakukan agar anak-anak yang mempelajari kurikulum tersebut memiliki sistem nilai, norma, dan budaya (tradisi) yang berkembang dalam masyarakatnya. Kecermatan mendapatkan gambaran karakterisitik masyarakat yang berkembang saat ini menjadi sangat vital. Hal ini penting agar anak-anak kita tidak menghadapi konflik sosial dalam lingkungannya.
Saat ini kita telah memasuki era globalisasi, yang juga dikenal sebagai abad-21 (Twenty-first Century). Pengembang kurikulum harus memahami betul karakteristik abad-21 dengan berbagai tuntutan dan kebutuhannya. Telah banyak kajian yang menggambarkan kompetensi yang harus dimiliki oleh anak-anak kita yang hidup di abad-21 ini. Sebagian besar, para ahli, hampir sepakat bahwa kompetensi yang harus dimiliki anak-anak kita lebih pada kompetensi dalam bentuk soft-skills. Hal ini bukan berarti kompetensi hard-skills tidak diperlukan, hanya mengingat perubahan yang sangat cepat di era ini, maka kompetensi yang paling fleksibel dan akan dibutuhkan dalam era apapun adalah kompetensi soft-skills.

Sedangkan kondisi masa depan juga menjadi sangat penting, karena kurikulum yang kita kembangkan pada hakikatnya adalah dalam upaya mempersiapkan anak-anak kita bisa hidup dan berkembang di masa akan datang. Sekolah memiliki tugas dan fungsi sosial menyiapkan anak didiknya memiliki karakteristik dan kompetensi yang diperlukan untuk bisa berkembang di masa depan. Oleh karena itu, tim pengembang kurikulum harus bisa melihat kecenderungan perkembangan masyarakat di masa depan seperti apa; Hal ini agar mereka bisa merumuskan karakteristik yang akan dikembangkan pada diri anak dalam kurikulum.

Perkembangan dunia industri juga terus berubah secara cepat/revolusi, sehingga sulit diprediksi. Saat ini telah memasuk era revolusi industri 4.0 (Industrial revolution 4.0 era) dan bahkan Jepang telah mengantisipasi untuk memasuki masyarakat 5.0 (Human-Center Society 5.0). Masing-masing era memiliki karakteristik sendiri. Di era seperti ini telah dan akan semakin banyak pekerjaan-pekerjaan yang selama menjadi favorit akan hilang, dan akan muncul pekerjaan-pekerjaan baru yang sampai saat ini belum diketahui jenis pekerjaan itu. Jelas kondisi seperti ini juga wajib diantisipasi oleh para pengembang kurikulum dalam mengembangkan kurikulum yang relevan dengan perkembangan zaman dan masyarakat.

Popularity: 4% [?]

2 comments to LANDASAN SOSIOLOGIS PENGEMBANGAN KURIKULUM

  • Terima Kasih atas informasinya Pak, saya rasa betul memang landasan sosiologis seharusnya menjadi salah satu pertimbangan penting dalam pengembangan kurikulum. Mengingat kondisi di wilayah saya yang saya rasa gagal dalam memenuhi kebutuhan, tidak relevan dengan kondisi sosilogis masyarakat. Apa yang bapak prediksi pada tulisan di atas terjadi pada masyarakat kami, sehingga seolah sekolah tidak hadir dalam menyediakan solusi bagi masyarakatnya. Semoga dapat kami renungkan bersama, khususnya praktisi pendidikan di daerah saya.

  • admin

    Ya tugas kita untuk secara perlahan memperbaiki kondisi pendidikan kita

Leave a Reply

 

 

 

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>