Pencarian

Custom Search

INVESTASI YANG CERDAS

Dalam banyak perbincangan santai dengan kolega kita sering membicarakan masalah investasi. Kita sering mendengar cerita teman berbagai bentuk investasi yang mereka lakukan untuk persiapan masa depan. Ada diantara kita yang membeli tanah dan bangunan, ruko, kebun atau sawah, dan ada juga menyimpan dananya dalam bentuk logam mulia, deposito, dan/atau asuransi. Kita begitu antusias untuk mempersiapkan diri kita menghadapi masa depan, di saat kita telah pensiun, agar lebih baik. Apa sih sesungguhnya yang disebut investasi? Untuk itu saya coba kutipkan beberapa definisi dari para ahli ekonomi. Haming dan Basalamah, misalnya, menyatakan bahwa investasi adalah aktivitas yang berkaitan dengan usaha penarikan sumber-sumber (dana) yang digunakan untuk mengadakan barang modal pada saat sekarang, dan dengan barang modal tersebut akan dihasilkan aliran produk baru dimasa yang akan datang. Senada dengan Haming dan Basalamah, James C Van Horn menyatakan kegiatan yang dilangsungkan dengan memanfaatkan kas pada sekarang ini, dengan tujuan untuk mendapatkan hasil barang di masa yang akan datang, sementara Fitz Gerald menyatakan aktivitas yang berkaitan dengan usaha penarikan sumber-sumber yang dipakai untuk mengadakan modal barang pada saat sekarang yang kemudian akan menghasilkan aliran produk baru di masa yang akan datang. Dari beberapa definisi di atas tampak bahwa yang dimaksudkan dengan investasi adalah memanfaatkan sumber daya yang kita miliki saat ini untuk menghasilkan produk baru di masa yang akan datang. Dengan tersedianya produk baru maka “kehidupan” kita di masa yang akan datang akan lebih terjamin. Dengan kata lain salah satu tujuan dalam berinvestasi adalah adanya jaminan kehidupan yang lebih baik dan terjamin di masa yang akan datang. Pertanyaannya adalah seberapa besar jaminan yang ingin kita dapatkan dan persiapkan untuk masa yang akan datang itu? Seberapa pasti jaminan itu akan meng-cover kehidupan kita di masa yang akan datang? dan yang lebih penting lagi adalah kapan yang dimaksud dengan “masa yang akan datang” tersebut?
Jawaban atas pertanyaan tersebut sangat mungkin berbeda diantara kita, karena sangat bergantung pada sudut pandang kita dalam melihat realita kehidupan ini dan tingkat penghayatan atas nilai-nilai ekonomi yang kita hadapi atau lebih spesifik seberapa besar “kesadaran” kita atas rizki yang dicurahkan oleh Yang Maha Kaya (Al Ghaniyy) kepada kita.
“Masa yang akan datang!!!” Kapan sesungguhnya masa itu akan dimasuki? Berapa lama kita akan berada di masa itu? Banyak diantara kita melihatnya sebagai suatu masa dimana kita telah memasuki masa pensiun. Oleh karena itu bentuk investasi yang dilakukan adalah dalam bentuk penyediaan beragam benda yang diharapkan dapat menjadi modal dalam mengisi masa-masa pensiun. Kalau saja memang ini yang dimaksud, mari kita renungkan apakah masa itu memang harus kita persiapkan dengan sepenuh jiwa. Kalau kita mengacu pada peraturan masa pensiun, sebagian dari kita akan memasuki masa pensiun di usia 58 tahun, 60 tahun, 65 tahun, dan ada juga yang berusia 70 tahun.
Catatan pertama yang harus kita sadari adalah apakah kita yakin, bahwa kita akan sampai pada masa pensiun itu, sehingga investasi yang kita tanamkan benar-benar dapat dinikmati. Saya yakin 100%, diantara kita tidak ada yang yakin sepenuhnya dan tidak ada yang bisa menjamin. Banyak saudara-saudara kita telah wafat sebelum memasuki masa pensiun.
Catatan kedua, kalau saja kita ditakdirkan sampai ke masa pensiun itu, pertanyaannya adalah berapa lama kita akan menikmati masa pensiun itu? 5 tahun! 10 tahun! 15 tahun! Atau lebih. Lagi-lagi tidak ada yang bisa memastikan, karena masa pensiun itupun pasti akan berakhir dan diakhiri oleh kematian. Sambil tidak ada yang tahu kapan kematian itu akan datang. Dengan kata lain investasi yang kita siapkan itu sesungguhnya hanya untuk persiapan kehidupan dalam waktu yang tidak terlalu lama.
Dengan demikian, kalau saja yang kita maksudkan “masa yang akan datang” itu adalah masa pensiun, maka masa itu sesungguhnya masa yang TIDAK PASTI kita alami atau masa yang memiliki rentang waktu yang tidak terlalu lama. Kalau memang demikian adanya, mengapa kita harus menghabiskan energi berinvestasi untuk mempersiapkan diri memasuki kehidupan di masa yang TIDAK PASTI. Bisa dibayangkan, kita mengerahkan segala daya upaya untuk mengumpulkan harta dan berinvestasi untuk masa depan kita. Bahkan tidak jarang diantara kita menghalalkan segala cara untuk mendapatkan harta tersebut sebanyak-banyaknya dan dinvestasikan dalam berbagai bentuk, seperti sawah, kebun, tanah, rumah, perhiasan, dan mungkin juga saham. Tapi setelah harta itu terkumpul, investasi di tanam, ternyata usia kita tidak sampai ke masa pensiun itu. Semua investasi yang kita upayakan akan kita tinggalkan, namun kita tetap akan dimintai pertanggungjawabannya oleh Yang Maha Kuasa. Investasi yang SIA-SIA bukan?
Sementara penulis sendiri berpendapat bahwa yang dimaksud dengan “Masa yang akan datang” yang hakiki adalah masa dimana kita telah wafat meninggalkan kehidupan dunia yang fana ini, dan memasuki hari akhir “akhirat” yang sangat panjang. Suatu masa dimana kehidupan menjadi sangat “individual” karena masing-masing hanya “mengurus” dirinya sendiri; tidak ada yang bisa kita mintai pertolongan. Masa ini adalah masa yang PASTI datangnya, dan PASTI kita alami. Di masa inilah kita perlu memiliki banyak “perbekalan” untuk melakukan perjalanan dan kehidupan kita agar aman, nyaman, dan selamat. Untuk memasuki masa inilah kita harus berinvestasi sebanyak-banyaknya, karena perjalan kita sangat panjang.
Ada banyak bentuk investasi yang pasti untung untuk “masa yang akan datang” kita. Hal ini telah ditunjukkan oleh Allah SWT dalam Al-Quran Surat As-Shaff ayat 11-13, yang artinya “Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (Yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya.” Diantara bentuk jihad yang bisa kita lakukan adalah (ikut) membangun mesjid pada saat ini. Jihad ini merupakan wujud investasi di “masa yang akan datang” untuk membangun rumah di surga, Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah Muhammad SAW: “Barangsiapa membangun masjid karena Allah sebesar sarang burung atau lebih kecil. Maka Allah akan bangunkan baginya rumah di surga.” (Dishahihkan oleh Al-Albany).
Selain itu, amal jariyah juga adalah bentuk lain dalam berinvestasi untuk “masa yang akan datang”. Ini adalah investasi yang akan terus mengalirkan keuntungan, tidak terbatas oleh waktu. Untuk ini barangkali kita harus mulai merubah cara menghitung dana dan harta yang kita miliki. Pada saat kita bersadaqah, kita tidak lagi menggunakan logika matematika, atau berhitung untung-rugi, tetapi gunakan logika “pahala”. Sebagai contoh, kalau kita punya uang Rp 100.000, kita ambil Rp 10.000 dan disadaqahkan dengan ikhlas, maka berapakah yang tersisa. Jawaban yang pasti adalah uang yang tersisa sebanyak Rp 10.000 yang kita shadaqakan dengan ikhlas, karena “pahala” dari uang yang Rp 10.000 itulah yang akan kita temui kelak di “masa yang akan datang” kita. Bahkan lebih dahsyat lagi, shadaqah dan jariah bukan hanya untuk investasi “masa yang akan datang” tetapi juga dapat dirasakan saat shadaqah itu diberikan. Dengan sedekah, Allah akan menambah rezeki yang banyak, halal dan berkah, menyembuhkan penyakit, memanjangkan umur, mendorong terkabulnya doa dan harapan, menolak bala, dan lain sebagainya (K.H. Yusuf Mansur). Ini satu bentuk investasi yang luar biasa.
Menyebarkan dan mengamalkan ilmu yang kita miliki agar menjadi ilmu yang bermanfaat adalah bentuk investasi cerdas yang lainnya yang sangat dahsyat. Kenapa demikian? Karena sekali kita berinvestasi menyebarkan dan mengamalkan ilmu yang bermanfaat maka “keuntungannya” tidak akan berhenti, terus mengalir ke dalam “pundi-pundi” pahala kita, selama ilmu itu dimanfaatkan oleh orang yang menerimanya. Dan itu merupakan bekal perjalanan hidup kita yang sangat panjang…
Ya Allah… beri kami kekuatan untuk berinvestasi secara cerdas dan ikhlas.

Popularity: 19% [?]

Leave a Reply

 

 

 

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>