Pencarian

Custom Search

Ilmu Pendidikan dan Fakultas Ilmu Pendidikan, Kembali Digugat

Pada tanggal 25 November 2014, bertepatan dengan hari guru, penulis menghadiri acara peluncuran buku “Teknologi Pendidikan dalam Pendidikan Jarak Jauh” karya Prof. Dr. Atwi Suparman, yang sekaligus acara pelepasan purna bakti beliau selaku PNS. Acara diselenggarakan di Balai Sidang UT, Pondok Cabe, Tangerang. Pada sesi diskusi, salah seorang Profesor “Pendidikan Sejarah” dari UT mengemukakan “kegelisahannya”. Beliau menyatakan — yang intinya adalah — bahwa ilmu pendidikan yang selama ini dipelajarinya sesungguhnya bersumber dari Pedagogiek yang dikemukakan oleh Langeveld, dan sejak itu tidak ada lagi perkembangan teori-teori tentang “ilmu pendidikan”. Saat ini yang ada hanya pendidikan sejarah, pendidikan matematika, dll. Beliau merasa sebagai Guru Besar dalam bidang ilmu pendidikan tidak lagi pas disebut demikian, karena ilmu pendidikan telah lama “mati”. Oleh karenanya maka fakultas ilmu pendidikan juga sudah tidak lagi sesuai, karena ilmu pendidikannya sudah tiada.
Isu yang dikemukakan oleh Profesor tersebut sesungguhnya bukanlah isu baru. Beberapa tahun lalu, Prof. Tilaar juga telah menyatakan bahwa ilmu pendidikan telah “mati suri”. Apabila kita melihat dari perkembangan ilmu pendidikan sebagai sebuah ilmu teoritis dan sejak Langeveld tidak ada lagi teori-teori pendidikan yang berhasil dikembangkan, maka bisa jadi kemudian ilmu pendidikan dinyatakan telah “mati suri”. Tetapi kalau kita sepakat bahwa bila bicara ilmu pendidikan bisa dilihat dari dimensi praktis, maka sangat sulit diterima bahwa ilmu pendidikan telah “mati suri” apalagi “mati” sungguhan. Pada tataran praktis ilmu pendidikan telah berkembang dengan pesat seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi “lain” yang mendukungnya. Bukankah praktek-praktek pendidikan sejarah, pendidikan matematika, dll merupakan wujud dari penerapan ilmu pendidikan praktis. Bagaimana mungkin melaksanakan pendidikan sejarah, pendidikan matematika, dll tanpa didasari oleh “ilmu pendidikan”.
Menanggapi permasalahan bahwa ilmu pendidikan teoritis yang telah lama “mati suri”, penulis melihat sangat bergantung pada sikap kita sebagai ilmuwan, profesional, akademisi, apalagi guru besar dalam bidang ilmu pendidikan. Ada dua pilihan sikap yang mungkin diambil, pertama adalah kita membiarkan ilmu pendidikan itu terus “mati suri” sampai akhirnya benar-benar mati sungguhan, sehingga praktek-praktek pendidikan yang kita lakukan tidak lagi didasarkan pada teori yang kuat. Atau kedua, hati dan jiwa kita terpanggil untuk “menghidupkannya” kembali menjadi ilmu yang terus eksis dan berkembang untuk membantu praktek pendidikan menjadi lebih baik. Sebagai ilmuwan pendidikan “sejati” tentunya pilihan sikap kedua yang harus kita ambil, karena kita memiliki tanggung jawab moral dan profesional untuk melaksanakan berbagai praktek pendidikan yang didasari oleh teori-teori ilmu pendidikan yang kuat. Oleh karena itu, kita juga punya tanggung jawab untuk terus melakukan berbagai kajian yang mendalam tentang ontologi ilmu pendidikan yang sesungguhnya.
Bagaimana sikap anda?

Popularity: 21% [?]

Leave a Reply

 

 

 

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>