»
S
I
D
E
B
A
R
«
Membangun Komunikasi Edukatif yang Efektif dengan Anak Bagi Wanita Karir
March 9th, 2010 by admin

Oleh:
Drs. Khaerudin, M.Pd.
Dosen Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan
Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Jakarta, Indonesia
e-mail: khaerudin@unj.ac.id

ABSTRACT
The developments in the field of information and communication technology (ICT) has penetrated and influenced many areas of life, such as economics, politics, defense and security, medicine, education, and family life. This condition is very reasonable, because the power and capabilities of ICT are very powerful. With brainware creativity, ICT can be used to overcome various problems and also allows people in carrying out his work. One of the ICT skills that can be utilized by humans is through ICT we can communicate in real time even with long distances. The development of mobile phone with 3G technology in the field of telecommunications, video conferencing, and even chating in the internet facility which is equipped with webcam, allows us to communicate closer and more personal, because by using this technology, communication occurs not only verbally, but also visually expressed through facial expressions of the counterpart.
On the other hand, for career women, who often feel run out of time to carry out office tasks, have difficulty to build an effective educational communication with their children. Effective educational communication is a form of communication aimed at building the capacity of a child who is expected to be a human beeing, that can develop their potential to be “different”; be oneself. This educational communications will be developed when the interaction between mother and child occurs as not just verbal “flat”; lip service, but must be based on sincerity and deep personal and emotional touch. This condition is a major problem for those who have set your heart to be a career woman. The problem is how they can perform both functions well at the same time, namely on the one hand as a career woman and on the other hand as an educator in the family.
To overcome the above conditions, one alternative that can be chosen is to utilize the power of ICT, particularly mobile and internet technology. Phone technology offers easiness to communicate verbally and visually. Information and communication technology in the form of the internet offers a variety of communication facilities, whether it is synchronous or asynchronous. Furthermore at this moment, we do not have to use a computer to access the Internet, because internet can be accessed using a mobile phone. Thus the interaction and communication will be more effectively developed.

Key words: ICT, career women, effective eduacational communication

LATAR BELAKANG

Kontroversi tentang siapakah sesungguhnya wanita karir itu, masih dan akan terus berkembang. Masing-masing pihak memiliki argumentasi yang diyakini benar oleh yang bersangkutan. Sejumlah kalangan yang melihat para wanita dari aspek nilai-nilai tradisional dan agama meyakini bahwa peran dan fungsi yang harus diemban oleh para wanita adalah mereka harus bekerja sesuai dengan kodratnya sebagai wanita. Tugas utama mereka sebagai wanita adalah bagaimana mereka mengandung, melahirkan, menyusui, mengasuh, dan mendidik anak-anak mereka dengan baik. Tugas yang tidak mungkin dikerjakan oleh para pria. Karir puncak yang dapat diraih oleh para wanita dalam melaksanakan tugas ini adalah pada saat mereka berhasil mengantarkan anak-anak mereka meraih kesuksesan dalam hidupnya. Inilah keberhasilan yang sesungguhnya dari karir seorang wanita.
Di sisi lain, mereka yang menamakan diri sebagai kelompok feminisme terus berusaha memperjuangkan kesamaan hak-hak perempuan dalam berbagai bidang kehidupan, termasuk dalam dunia kerja. Mereka yang termasuk dalam kelompok ini yakin bahwa mereka mampu melaksanakan tugas-tugas atau pekerjaan-pekerjaan yang selama ini dilakukan oleh kaum pria, asalkan mereka mendapatkan kesempatan yang sama. Secara empiris, keyakinan para kaum feminis terbukti, paling tidak bila dilihat dari kiprah mereka dalam berbagai bidang pekerjaan. Saat ini telah terdapat para pekerja wanita dalam berbagai bidang pekrjaan,baik pekerjaan yang menuntut kekuatan otot maupun otak. Namun permasalahan yang harus dihadapi para wanita kakrir ini tidak sedikit, baik permasalahan di tempat kerja maupun dalam keluarga. Salah satu permasalahan dalam keluarga yang sering dihadapi adalah sulitnya membangun komunikasi edukatif yang efektif dengan anak-anak mereka. Hal ini berakibat anak-anak mereka merasa kurang mendapat perhatian dan rasa kasih sayang dari seorang ibu.
Namun di sisi lain, keberadaan wanita karir tidak bisa dipungkuri keberadaanya. Dengan segala risiko dan kelemahannya akan tetap ada dan terus ada. Sekalipun fakta lain menunjukkan, bahwa berdasarkan hasil polling pendapat para wanita karir tentang karir seorang wanita yang dilakukan oleh lembaga pengakjian strategi di Amerika, sesungguhnya para wanita saat ini sangat keletihan, dan 65% dari mereka lebih mengutamakan untuk kembali ke rumah mereka ( http://www.belajarislam.com). Permasalahannya sekarang adalah bagaimana mengurangi risiko akibat ketiadaan mereka dalam keluarga yang berakibat komunikasi dengan anggota keluarga lain, khususnya anak-anak mereka tidak berjalan dengan baik. Perlu suatu solusi yang efektif untuk membantu wanita karir dalam membangun komunikasi yang edukatif dan efektif dengan anak-anak mereka, sehingga mereka masih tetap dapat menjalankan fungsinya sebagai pendidik dalam keluarga, sambil menjalan “ambisinya” sebagai wanita karir.
Makalah ini akan mencoba memaparkan salah satu alternatif itu dengan menawarkan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi (TIK).

KAJIAN PUSTAKA
Wanita Karir?
Siapakah sesungguhnya wanita karir? Jawaban atas pertanyaan ini tentu akan berbeda bila ditanyakan kepada sejumlah orang yang memiliki paradigma tentang tugas dan fungsi wanita yang berbeda. Kelompok masyarakat yang memegang teguh nilai tradisi dan agama berkeyakinan bahwa yang disebut wanita karir adalah mereka yang dapat melaksanakan tugas dan fungsinya sesuai dengan kodratnya sebagai wanita. Mereka yang disebut wanita karir tidak harus bekerja di luar rumah dengan jabatan tertentu, tetapi yang paling hakiki adalah mereka yang dapat mendidik anak-anak mereka menjadi manusia yang berhasil dalam kehidupannya.
Salah satu bangsa yang memegang teguh paradigma ini adalah bangsa Jepang. Mereka memiliki istilah Kyoiku Mama atau Ibu Pendidikan. Istilah ini merujuk pada upaya ibu-ibu di Jepang yang terus menerus mengembangkan potensi yang dimiliki anak-anaknya dan menyekolahkan anak-anak mereka ke sekolah dan universitas terbaik. Bahkan lebih tajam seorang pengamat Jepang bernama Reingold, mendefinisikan Kyoiku Mama sebagai berikut: She becomes directly involved in and identified with the child’s succes or failure (http://akumukita.multiply.com). Dengan kata lain keberhasilan dan kegagalan seorang ibu dilihat dari keberhasilan dan kegagalan anak-anaknya.
Paradigma yang sama telah dikembangkan dalam ajaran Islam sejak 15 abad yang lalu. Hadist Nabi Muhammad SAW yang berbunyi “Aljannatu tahta aqdaamil Ummahaati – Surga ada di bawah telapak kaki ibu”, mengandung makna bahwa kebahagian (surga) setiap anak sesungguhnya bergantung pada ibunya. Cara seorang ibu mengasuh dan mendidik anak-anak mereka, bukan hanya pada saat mereka telah dilahirkan tetapi juga sejak dalam kandungan, akan sangat mempengaruhi perkembangan watak dan karakter anak-anak mereka, dimana watak dan karakter ini akan mempengaruhi proses perkembangan hidup mereka, baik di dalam masyarakat maupun dalam dunia kerja.
Namun di sisi lain, istilah wanita karir sering diartikan sebagai (a) seorang wanita yang menjadikan karir atau pekerjaannya secara serius; (b) perempuan yang memiliki karir atau yang menganggap kehidupan kerjanya dengan serius (mengalahkan sisi-sisi kehidupan yang lain). Pengertian di atas menunjukkan bahwa seseorang dikatakan wanita karir apabila ia memiliki suatu pekerjaan (formal) yang dijalaninya dengan serius, sehingga seringkali mengesampingkan urusan-urusan lain di luar urusan pekerjaannya, termasuk urusan keluarga. Secara lebih konkrit gambaran wanita karir dalam pengertian ini adalah para wanita yang pergi bekerja di luar rumah secara rutin (tiap hari) pada pagi hari, dan pulang pada sore hari, atau malam hari, bahkan tidak pulang untuk beberapa hari karena harus tugas di luar kota atau di luar negeri. Kesibukan yang luar biasa sehingga sering tidak lagi punya waktu untuk mengurusi masalah keluarga, termasuk dalam melaksanakan tugas dan fungsinya sebagai pendidik dan mendidik anak-anaknya di rumah.
Kondisi seperti ini bisa jadi sebagai hasil dari para “pejuang” feminisme, yang terus memperjuangkan hak-hak atas peran dan fungsi para wanita dalam berbagai hal, seperti dalam bidang politik, sosial, dan termasuk dunia kerja. Para feminist berkeyakinan bahwa para wanita memiliki kemampuan yang setara dengan para lelaki, sehingga apapun pekerjaan yang selama ini dilakukan oleh para lelaki mereka akan mampu melakukannya.
Para kaum feminis juga menolak berbagai bentuk diskriminasi terhadap wanita. Mereka menuntut persamaan hak bagi wanita, baik dalam bidang pendidikan maupun politik.
Wanita tidak boleh lagi dijadikan sebagai “burung di dalam sangkar”. Mereka harus dibebaskan dari berbagai pengekangan dari berbagai bidang, seperti rumah-tangga dan ‘penjara-penjara’ lainnya. Mereka berpendapat, bahwa berbagai kelemahan yang terdapat pada wanita karir selama ini lebih disebabkan oleh faktor lingkungan, bukan karena faktor internal diri wanita sendiri. Hal yang sama bisa juga terjadi pada laki-laki, kalau mereka tidak berpendidikan dan diperlakukan seperti perempuan.
Pendapat di atas senada dengan pendapat kelompok feminisme liberal. Kelompok ini menempatkan perempuan sebagai individu yang memiliki kebebasan secara penuh dan individual. Kelompok ini menyatakan bahwa kebebasan dan kesamaan berakar pada rasionalitas dan pemisahan antara dunia pribadi dan publik. Mereka juga berpendapat bahwa setiap manusia, termasuk para perempuan, memiliki kapasitas untuk berpikir dan bertindak secara rasional. Oleh karena itu, perempuan harus mempersiapkan diri agar dapat bersaing di dalam kerangka “persaingan bebas” dan punya kedudukan setara dengan lelaki (http://id.wikipedia.org/wiki/Feminisme).
Implikasi dari pandangan ini, para wanita penganutnya “menuntut” kesamaan dalam berbagai hal dengan pria, termasuk dalam mendapatkan kesempatan kerja. Mereka menginginkan, tidak ada pembatasan dunia kerja bagi para wanita, karena mereka yakin semua bentuk pekerjaan dapat dilakukannya. Semua jenis pekerjaan dapat dilakukan, mulai dari pekerjaan yang menuntut kekuatan otot, kecerdasan otak, kecerdasan emosi, dan juga kelembutan rasa. Oleh karena itu tidak heran jika saat ini, terdapat pekerja perempuan dalam berbagai sektor pekerjaan. Tidak jarang diantara mereka harus bekerja sepanjang hari, pergi pagi hari sebelum anak-anak mereka bangun, dan pulang pada sore atau malam hari pada saat anak-anak mereka telah tidur. Bahkan tidak jarang diantara mereka harus meninggalkan rumah (keluarga) dalam waktu yang relatif lama, karena mendapat tugas di luar kota atau bahkan ke luar negeri dengan “sang bos”. Kondisi seperti inilah, yang oleh Joel Simon, disebut bayaran yang harus dibayar oleh para perempuan karir yang merontokkan sendi-sendi rumah tangga. Secara lengkap Joel Simon, mengungkapkan hasil penemuannya, bahwa ternyata para perempuan telah direkrut oleh “pemerintah” untuk bekerja di pabrik-pabrik dan mendapatkan sejumlah uang sebagai imbalannya, akan tetapi hal itu harus mereka bayar mahal, yaitu dengan rontoknya sendi-sendi rumah tangga mereka.”
Kondisi seperti di atas juga telah digambarkan oleh seorang penulis dari Inggris yang menyatakan bahwa ciri-ciri wanita karir adalah, mereka tidak suka berumah tangga, tidak suka berfungsi sebagai ibu, emosinya berbeda dengan wanita non karir, dan biasanya menjadi wanita melankolis. Dengan ciri-ciri yang demikian, tentu tidak heran kalau para wanita karir sering menghadapi masalah, terutama masalah keluarga.
Bahkan permasalahan yangdihadapi para wanita karir bukan hanya permasalahan keluarga, dalam dunia kerjanya pun, para wanita umumnya lebih sering mengalami apa yang disebut sebagai efek “langit-langit kaca” (glass ceiling). Langit-langit kaca adalah sebuah artificial barrier yang menghambat wanita mencapai posisi puncak pada suatu institusi tempat ia bekerja. Secara faktual para wanita karir melihat ada satu posisi puncak yang dapat diraih dalam karirnya dan merasa mampu ke mencapainya, tapi pada faktanya mereka terhalang oleh langit-langit kaca tersebut. Kondisi ini disebabkan karena pada hakikat kodratinya yang tidak dapat dipungkiri, karena ia memiliki ke khasan secara fisik maupun psikis (http://www.belajarislam.com).

Komunikasi Edukatif yang Efektif
Komunikasi adalah suatu proses dinamik transaksional yang mempengaruhi perilaku dimana sumber dan penerimanya dengan sengaja menyandi (to code) perilaku mereka untuk menghasilkan pesan (message) yang mereka salurkan lewat suatu saluran (channel) guna merangsang atau memperoleh sikap atau perilaku tertentu (Deddy Mulyana, Jalaludin Rakhmat). Mengacu pada definisi di atas, maka pada saat seseorang berkomunikasi terdapat sejumlah unsur yang terlibat, diantaranya sumber (source) informasi. Dalam hal ini adalah orang yang mempunyai kebutuhan untuk menyampaikan sesuatu kepada orang lain. Kebutuhan yang dimaksud bisa beragam, seperti berbagi perasaan, menyampikan informasi, membangun tali silaturahmi, termasuk kebutuhan untuk mempengaruhi sikap atau perilaku orang lain. Dalam menyampaikan pikiran dan perasaannya itu seseorang harus menggunakan lambang-lambang yang tepat, yaitu apa yang disebut dengan menyandi (encoding). Proses ini menghasilkan apa yang disebut dengan pesan (message). Dalam menyalurkan pesan kepada penerima diperlukan saluran (channel) yaitu suatu alat fisik yang menghubungkan antara penyampai pesan kepada penerima pesan. Penerima pesan inilah yang disebut dengan receiver. Dalam kondisi tertentu bisa jadi penerima pesan mengalami masalah dalam menerima pesan, sehingga pesan yang diterima tidak seperti yang diharapkan oleh si pengirim pesan. Hal ini bisa terjadi karena proses pemberian makna kepada perilaku sumber tidak tepat atau terjadi distorsi, yang disebabkan oleh perbedaan persepsi dan pengalaman yang terlalu jauh. Hal ini akan ditunjukkan oleh respon penerima (receiver response). Respon penerima bisa beragam, mulai dari keputusan untuk mengabaikan pesan atau tidak melakukan apapun, sampai pada tindakan menerima dengan segera dan terbuka. Komunikasi dikatakan efektif apabila respon yang ditunjukkan oleh penerima sesuai atau mendekati apa yang harapkan oleh sumber yang menciptakan pesan.
Berlo (1960), seorang pemikir dalam bidang teknologi pendidikan, berpendapat bahwa variabel-variabel kunci yang mempengaruhi keberhasilan dalam berkomunikasi adalah sifat, kemampuan, dan perhatian para penyampai dan penerima pesan; kapasitas saluran komunikasi yang berbeda; struktur dan isi pesan yang dikirim; panjang gangguan yang muncul dalam berkomunikasi; dan kualitas pertukaran umpan balik antara pengirim dan penerima pesan (Alan Januszewski, Michael molenda).
Dalam konteks lain, Kasali mengingatkan bahwa komunikasi sangat dibutuhkan dalam melakukan perubahan, termasuk perubahan yang diinginkan dari penerima pesan. Dalam berkomunikasi, perlu diingat bahwa informasi resmi dan satu arah saja belum cukup, karena informasi yang diterima oleh si penerima pesan tidak hanya satu, bisa jadi mereka menerima informasi tandingan, bahkan informasi palsu yang menyesatkan, sehingga perubahan perilaku yang diharapkan tidak terjadi. Namun perlu juga diingat bahwa komunikasi yang terlalu rutin akan membuat orang cepat bosan dan merasa bosan. Manusia perlu surprise yang dapat memicu adrenalin mereka dan merasakan sentuhan-sentuhan emosi yang hidup (Rhenald Kasali).
Komunikasi edukatif adalah komunikasi yang pesannya berupa nilai-nilai positif yang secara sengaja “ditanamkan” kepada penerima. Berbeda dengan komunikasi pada umumnya, dalam berkomunikasi edukatif terdapat tujuan dari si penyampai pesan untuk merubah perilaku penerima pesan ke arah yang lebih baik, sesuai dengan nilai-nilai yang diyakininya benar. Tujuan dari komunikasi edukatif adalah agar si penerima pesan menjadi manusia seperti yang diharapkan oleh si penyampai pesan. Mengingat dalam komunikasi edukatif yang disampaikan berupa pesan moral atau nilai-nilai, maka diperlukan saluran yang kuat untuk menyampaikannya. Saluran yang mampu menyentuh hati nurani si penerima, karena dalam komunikasi edukatif sasaran utama bukan hanya pada aspek kognitif tetapi justru pada aspek afeksi. Oleh karena itu, dalam komunikasi edukatif diperlukan kekuatan ucapan dan sentuhan-sentuhan hati yang ihlas dan emosi yang lembut dan dalam.

Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK)
Istilah teknologi informasi dan komunikasi sesungguhnya merupakan penggabungan dari tiga istilah yang saling terkait, yaitu teknologi, informasi, dan komunikasi. Galbraith, J.K mendefinisikan teknologi sebagai aplikasi sistematik dari sains atau pengetahuan untuk melaksanakan tugas praktikal. Dengan sudut pandang yang berbeda, Iskandar Alisyabana mendefiniskan teknologi sebagai cara melakukan sesuatu untuk memenuhi kebutuhan manusia dengan bantuan alat dan akal. Sedangkan B.J. Habibie mendefinisikan teknologi sebagai proses untuk memperoleh nilai tambah (added value). Dengan mengacu pada ketiga definisi di atas, maka dapat disimpulkan bahwa teknologi adalah suatu cara melakukan sesuatu yang bersifat praktikal dengan mengaplikasikan suatu disain atau pengetahuan agar memperoleh nilai tambah.
Dengan melihat pengertian di atas, maka teknologi memiliki kedudukan yang sangat vital dalam masyarakat untuk membangun sesuatu. Di samping itu, teknologi juga sudah menjadi bagian integral dalam kehidupan manusia; sedikit sekali kelompok masyarakat yang dapat terlepas dari teknologi, karena kalau mereka menghindar dari teknologi mereka akan menjadi masyarakat yang terbelakang. Di era saat ini bisa dikatakan teknologi merupakan cermin kemajuan budaya, artinya semakin maju budaya suatu masyarakat, maka akan semakin banyak dan beragam teknologi yang dihasilkan dan dimanfaatkan oleh masyarakat tersebut. Hal yang tidak kalah pentingnya adalah bahwa teknologi diciptaan manusia untuk membantu memecahkan masalah yang dihadapinya.
Bila konsep teknologi di atas digabungkan dengan konsep komunikasi menjadi teknologi komunikasi, mengandung arti sebagai sarana, prasarana, struktur kelembagaan, dan nilai sosial dimana pesan yang memungkinkan timbulnya keselarasan dikumpulkan, disimpan, diolah, dan dipertukarkan. Demikian juga kalau konsep teknologi digabung dengan konsep informasi maka akan menjadi suatu sarana, prasarana, perangkat lunak serta sistem dan metode untuk memperoleh, menyimpan, mengolah, mengirim, menerima, menafsirkan, mengorganisikan, dan menggunakan data yang bermakna. Sedangkan bila ketiga konsep digabung menjadi teknologi informasi dan komunikasi, maka dapat diartikan sebagai suatu bentuk komunikasi informasi jarak jauh yang memanfaatkan standar digital atau biner.
Secara umum teknologi informasi dan komunikasi memiliki sejumlah potensi untuk kemasalahatan masyarakat, diantaranya dapat digunakan untuk meningkatkan akses untuk memperoleh informasi dari mana saja, siapa saja, kapan saja, dan apa saja; meningkatkan efektivitas komunikasi dengan berbagai bentuk rangsangan indera; meningkatkan relevansi dengan kebutuhan yang semakin banyak dan beragam; menyesuaikan dengan kondisi lingkungan yang berubah; dan meningkatkan efisiensi dengan menghemat waktu, tenaga dan biaya.
Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi telah menawarkan berbagai kemudahan pada umat manusia. Kemudahan dalam melaksanakan tugas dan memecahkan berbagai permasalahan yang dihadapinya dalam kehidupan sehari-hari. Tidak terkecuali untuk membantu para orang tua yang tidak dapat berkomunikasi secara fisik dengan anggota keluarga, khususnya dengan anak-anak mereka. Diantara bentuk TIK yang dapat melaksanakan fungsi ini adalah telepon seluler (handphone) dan internet. Kedua teknologi ini memungkinkan para orang tua dapat melakukan komunikasi edukatif baik secara verbal maupun visual; komunikasi dapat dilakukan dimana saja, dan kapan saja.
Perkembangan dalam bidang telepon seluler memungkinkan para wanita karir melakukan komunikasi secara oral (berbicara) maupun hanya sekedar teks dalam bentuk pesan singkat (short message service – sms). Bahkan dengan teknologi 3G memungkinkan komunikasi orang tua dengan anaknya bisa lebih intens. Dengan memanfaatkan teknologi seperti ini interaksi dan komunikasi menjadi lebih dekat, hangat, dan personal, karena komunikasi yang dibangun bukan hanya dalam bentuk verbal, tetapi juga visual. Melalui komunikasi visual pesan yang disalurkan akan menjadi lebih jelas, karena penerima pesan dapat menangkap pesan tersebut bukan hanya dari kata-kata verbal tetapi juga ekspresi wajah, dan gestur tubuh yang dapat memperkuat makna kata-kata yang disampaikan. Dengan demikian pesan yang disampaikan akan diterima oleh penerima pesan dengan distorsi yang sangat minim. Namun demikian teknologi 3G saat ini masih termasuk dalam kategori yang relatif mahal. Artinya pemanfaatan teknologi ini hanya dapat dilakukan oleh orang-orang tertentu atau wanita karir yang benar-benar telah mapan.
Teknologi lain yang relatif murah dan telah mewabah adalah teknologi informasi dan komunikasi dalam bentuk internet. Internet adalah jaringan global yang menghubungkan beribu bahkan berjuta jaringan komputer (local/wide area network) dan komputer pribadi (stand alone), yang memungkinkan setiap komputer yang terhubung kepadanya bisa melakukan komunikasi satu sama lain (Brace, 1997). Banyak fasilitas yang ditawarkan oleh internet untuk dapat melakukan komunikasi, diantaranya: Telnet, Gopher, WAIS, e-mail, Mailing List (milis), Newsgroup, File Transfer Protocol (FTP), Internet Relay Chat, World Wide Web (WWW).
Dengan memanfaatkan berbagai fasilitas yang ditawarkan oleh jaringan internet setiap orang dapat berkomunikasi dengan lebih intens. Berbagai fitur yang tersedia dalam jaringan internet menawarkan berbagai kemudahan dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Interaksi yang ditawarkan dapat secara asyncronous maupun syncronous. Dengan memanfaatkan fitur asyncronous dari internet, memungkinkan kita dapat berkomunikasi secara tertulis, baik melalui email maupun menggunakan jaringan sosial seperti facebook. Sedangkan melalui interaksi yang syncronous kita dapat memperoleh respon dengan segera, sehingga komunikasi menjadi lebih efektif. Diantara fasilitas yang tersedia untuk melakukan interaksi secara syncronous adalah fitur chatting. Bahkan program Yahoo Massenger menyediakan fasilitas komunikasi visual apabila kita melengkapi komputer kita dengan fasilitas Webcam. Tentu komunikasi yang terbangun akan semakin kuat karena didukung oleh adanya interaksi visual yang mampu memperkuat bahasa verbal kita. Kemudahan dalam memanfaatkan internet sangat terbantu dengan hadirnya sejumlah telepon seluler yang dapat digunakan untuk mengakses internet, sehingga kita dapat melakukan aktivitas browsing dan berkomunikasi kapan saja dan dimana saja.
Beberapa fiture internet di atas dapat digunakan untuk membangun komunikasi edukatif secara efektif dengan anggota keluarga, termasuk tentunya dengan anak-anak mereka. Komunikasi ini tentu harus memperhatikan pesan yang disampaikan, yaitu berupa nilai-nilai untuk membangun dan mengembangkan kecerdasan emosi sang anak; Pesan yang disampaikan harus mampu menunjukkan adanya rasa kasih sayang dari seorang ibu terhadap anaknya. Apabila hal ini dapat dilakukan tentunya kelamahan dan permasalahan para wanita karir yang sulit membangun komunikasi edukatif dengan anak-anak mereka akan teratasi. Karena yang terpenting dalam berkomunikasi ini adalah “kualitas komunikasi”, bukan hanya pada “kuantitas komunikasi”. Komunikasi yang berkualitas adalah komunikasi yang bermakna; komunikasi yang mengandung nilai dan norma yang dibagi (share) diantara para komunikator; komunikasi yang bukan hanya sekedar “say hallo”.

KESIMPULAN
Menjadi wanita karir untuk sementara orang adalah sebagai sebuah pilihan hidup, namun bagi yang lainnya bisa jadi karena keterpaksaan. Namun apapun latar belakang mereka menjadi wanita karir, mereka tetap dituntut untuk dapat melaksanakan perannya sebagai seorang ibu bagi anak-anak mereka, yang selalu memberi perhatian dan mencurahkan kasih sayangnya tanpa harus terhalang oleh tugas-tugas rutinnya sebagai wanita karir. Kendala jarak dan waktu untuk melakukan komunikasi edukatif dengan anak-anak mereka, saat ini sudah tidak lagi menjadi masalah besar. Berbagai perangkat teknologi komunikasi dan informasi telah tersedia dalam masyarakat kita yang dapat dimanfaatkan untuk melaksanakan peran tersebut. Teknologi telepon seluler bahkan dengan teknologi 3G-nya memberi kemudahan kepada para wanita karir untuk melaksanakan komunikasi edukatif yang efektif dengan anak-anak mereka. Demikian juga dengan internet, memungkinkan para wanita karir untuk berkomunikasi baik secara verbal (teks) maupun visual; baik secara syncromous maupun asyncronous.

Popularity: 22% [?]


Leave a Reply

»  Substance: WordPress   »  Style: Ahren Ahimsa