Pencarian

Custom Search

Pembelajaran (Tidak) Taat Hukum oleh Depdiknas

Mahkamah Agung (MA) telah memutuskan melarang Ujian Nasional (UN). Informasi ini diperoleh dari info perkara pada situs Mahkamah Agung (MA) bernomor register 2596 K/PDT/2008 tanggal 14 September 2009. Menanggapi putusan tersebut Mendiknas bersikeras untuk melaksanakan Ujian Nasional (UN) tahun 2010. Ujian Nasional utama akan tetap dilaksanakan sesuai rencana, bulan Maret 2010. Adapun alasannya, karena sampai saat ini masih belum menerima putusan Mahkamah Agung (MA) terkait penolakan kasasi tentang UN.
Bila benar Mendiknas tetap pada pendiriannya, siapa lagi di negeri ini yang dapat dijadikan suri tauladan bagi anak-anak bangsa untuk taat pada hukum yang berlaku. Bukankah “pembangkangan” itu sekaligus sebagai pembelajaran yang diberikan oleh petinggi lembaga dunia pendidikan kepada anak-anak bangsa yang sedang mencari jati diri untuk tidak taat pada hukum. Mau menjadi apa bangsa ini ke depan kalau anak-anak bangsa, yang nota bene calon penerus bangsa, telah “dididik” dan diberi contoh untuk tidak taat pada hukum.
Mari kita buka pikiran dengan jernih untuk memikirkan pendapat dan masukan dari masyarakat, yang menyoroti UN ini dengan berbagai sudut pandangnya, seperti dari sudut pandang ilmu psikologi, ilmu pendidikan, proses pembelajaran, ilmu evaluasi, ilmu hukum, dll. Tidak sedikit kajian yang dilakukan berbagaikalangan, baik yang bersifat teoritik maupun empirik, yang menunjukkan UN sesungguhnya telah membawa kualitas pendidikan kita terpuruk. Kualitas pendidikan yang sesungguhnya, yaitu menghasilkan manusia yang utuh sebagaimana diamanatkan oleh undang-undang.

Popularity: 9% [?]

7 comments to Pembelajaran (Tidak) Taat Hukum oleh Depdiknas

  • Asyhar

    Aku sangat setuju dengan keputusan yang telah diambil oleh MA{mahkamah agung}karena adanya ujian nasional smua anak bangsa menjadi terpuruk,takut,masak sekolah selama 3 tahun hanya ditentukan hanya dengan jangka waktu 12 jam doang???mhon dimengerti kapasitas pemikiran warga indonesia.

  • Andre

    adminnya blog ini apakah sama dengan grup facebook “BUBARKAN UJIAN NASIONAL – STOP MEMBUAT KETAKUTAN SISWA DAN SISWI”?
    kalo bisa reply via email saja min :D

  • hanna junita

    saya sebagai mahasiswa TP UNJ yang telah mempelajari KTSP, sangat mendukung keputusan dari MA tersebut, karena bagi saya UN bukanlah penentu kelulusan seseorang karena tidak dapat menilai aspek2 lain dalam diri anak..saya memiliki masukan agar UN tetap dilaksanakan untuk mengukur kemampuan siswa secara global se-Indonesia tetapi dalam penentuan kelulusan harus tetap menimbang dari nilai raport siswa.

  • Aruybiznet

    Keberhasilan proses pembelajaran selama tiga tahun hanya diukur dalam waktu kurang dari 10 jam, sungguh aneh… para orang tua sibuk memasukkan anaknya ke lembaga-lembaga bimbel, siswa hanya belajar rumus2 untuk dihafal supaya bisa digunakan dlm UN dan BUKANNYA DALAM KEHIDUPAN SEHARI2, Kalau begitu apa gunanya INTEGRAL, TRIGONOMETRI, ALJABAR, KURVA PENAWARAN DAN PERMINTAAN???

  • Zahrias

    Mengapa evaluasi harus dihapus? bagaimana bisa kita menstandarkan mutu pendidikan peserta didik? memang tidak logis dan sangat menghancurkan perasaan serta cita2 karena hasil belajar selama 12 tahun (SD-SMA) luluh lantak hanya karena hasil ujian nasional yang tidak lebih dari 2 minggu…..
    hal sama yang pernah saya alami….tidak lulus UAS (bukan UN)…..satu hal bodoh yang akhirnya membuat saya kehilangan semangat & kepercyaan diri dlm menghadapi sesuatu….saya yang alhamdulillah selalu masuk rangking 5 besar mulai SD hingga SMA harus melupakan impian saya masuk satu PTN favorit….
    jangan sampai hal sama terjadi lagi, sudah banyak korban atas keputusan2 diknas…
    tapi kami peserta didik hanya bisa mengeluh dibelakang tanpa bisa berteriak lantang di depan petinggi2 diknas…
    gunakan nurani dan kata hati karena kata hati menuju kebenaran
    insyaallah semua menjadi lebih baik….

  • jannah

    maaf ya, tolong dicari dan dibaca secara teliti keputusan MA yang benar. apakah didalam keputusan tersebut ada pelarangan terhadap penyelenggaraan UN. terima kasih

  • UN? Hidup memang perlu ujian. Tujuan Ujian kan bisa untuk menyeleksi atau untuk pengukuran kualitas. Kalau untuk menyeleksi wajar dong kalau ada yang tidak lolos seleksi! tapi kalau untuk mengukur kualitas masa sih dicampur aduk dengan seleksi? Saya tak sependapat UN dijadikan alat seleksi! Saya sepakat jika UN sebagai alat pengukur kualitas, jadi guru tak perlu takut sehingga harus membentuk tim sukses lantas menipu diri sendiri dengan mengakali UN! Biarlah hasil UN murni sehingga betul2 diketahui sekolah mana yang berkualitas dan mana yang belum berkualitas. Saya yakin pemerintah tak kan sanggup melihat kenyataan bahwa banyak sekolah belum memiliki kualitas sesuai harapan. Jadi selamat memperbaiki kualitas sekolah2 kita. bukan memaksakan sekolah2 kita tuk mendrill anak2 scr gak karuan!

Leave a Reply

 

 

 

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>