<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: PENGEMBANGAN KURIKULUM BERBASIS LOKAL BERWAWASAN GLOBAL</title>
	<atom:link href="http://www.ilmupendidikan.net/2009/10/19/pengembangan-kurikulum-berbasis-lokal-berwawasan-global.php/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.ilmupendidikan.net/2009/10/19/pengembangan-kurikulum-berbasis-lokal-berwawasan-global.php</link>
	<description>Blog bagi yang peduli dengan dunia pendidikan</description>
	<lastBuildDate>Tue, 29 Jun 2010 05:19:52 +0700</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.4</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>By: vhajrie27</title>
		<link>http://www.ilmupendidikan.net/2009/10/19/pengembangan-kurikulum-berbasis-lokal-berwawasan-global.php/comment-page-1#comment-1184</link>
		<dc:creator>vhajrie27</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 22 Dec 2009 09:14:04 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.ilmupendidikan.net/?p=39#comment-1184</guid>
		<description>maaf pak, saya tag tulisan bapak di blog saya....</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>maaf pak, saya tag tulisan bapak di blog saya&#8230;.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: syahril Rumagorong</title>
		<link>http://www.ilmupendidikan.net/2009/10/19/pengembangan-kurikulum-berbasis-lokal-berwawasan-global.php/comment-page-1#comment-1148</link>
		<dc:creator>syahril Rumagorong</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 21 Oct 2009 03:10:02 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.ilmupendidikan.net/?p=39#comment-1148</guid>
		<description>Saya teringat tulisan Pak Komaruddin Hidayat, dalam satu edisi Majalah PARTA yang pernah menyampaikan inti persoalan yang sama dengan tulisan di atas. Menurut Bang Komar (begitu beliau sering disapa), pendidikan kita ke depan harus mampu menghasilkan peserta didik yang buah pikirnya mendunia, tetapi tetap memiliki ciri khas sebagai orang Indonesia (lokal). Beliau melahirkan istilah sederhana  &quot;think globally but act locally&quot; untuk mengurai pokok pikirannya tentang masalah penting ini. Mengapa? karena pendidikan kita selama ini ternyata mengalami benturan hebat dengan nilai-nilai luar yang pada akhirnya merusak kearifan budaya lokal kita. Satu contoh sederhana, dalam hal pakaian, kita banyak meniru pola orang barat sementara dalam hal semangat dan kesungguhan bekerja dan belajar kita jauh tertinggal dengan mereka. Ini contoh negatif yang seharusnya tidak perlu terjadi, jika masyarakat Indonesia ini dididik dengan nilai kearifan adat budaya lokalnya. Jadi kondisi ini berbalik dengan orang Jepang yang walaupun kemajuan mereka tidak dapat disepelekan barat, tetapi ciri khas budaya Jepang tetap melekat pada individu dan sikap hidup mereka. Mereka berhasil memanfaatkan kemajuan teknologi dan ilmu untuk semakin mengenalkan &quot;ciri khas&quot; Jepangnya itu ke dunia. Walau mereka kaya dan sukses, orangnya tetap suka memakai pakaian khas Jepang, minum teh ala Jepang dan lain seterusnya. Kenapa kita tidak??</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Saya teringat tulisan Pak Komaruddin Hidayat, dalam satu edisi Majalah PARTA yang pernah menyampaikan inti persoalan yang sama dengan tulisan di atas. Menurut Bang Komar (begitu beliau sering disapa), pendidikan kita ke depan harus mampu menghasilkan peserta didik yang buah pikirnya mendunia, tetapi tetap memiliki ciri khas sebagai orang Indonesia (lokal). Beliau melahirkan istilah sederhana  &#8220;think globally but act locally&#8221; untuk mengurai pokok pikirannya tentang masalah penting ini. Mengapa? karena pendidikan kita selama ini ternyata mengalami benturan hebat dengan nilai-nilai luar yang pada akhirnya merusak kearifan budaya lokal kita. Satu contoh sederhana, dalam hal pakaian, kita banyak meniru pola orang barat sementara dalam hal semangat dan kesungguhan bekerja dan belajar kita jauh tertinggal dengan mereka. Ini contoh negatif yang seharusnya tidak perlu terjadi, jika masyarakat Indonesia ini dididik dengan nilai kearifan adat budaya lokalnya. Jadi kondisi ini berbalik dengan orang Jepang yang walaupun kemajuan mereka tidak dapat disepelekan barat, tetapi ciri khas budaya Jepang tetap melekat pada individu dan sikap hidup mereka. Mereka berhasil memanfaatkan kemajuan teknologi dan ilmu untuk semakin mengenalkan &#8220;ciri khas&#8221; Jepangnya itu ke dunia. Walau mereka kaya dan sukses, orangnya tetap suka memakai pakaian khas Jepang, minum teh ala Jepang dan lain seterusnya. Kenapa kita tidak??</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
