»
S
I
D
E
B
A
R
«
Rahasia Sukses Mantan TKI Ilegal
Mar 29th, 2015 by admin

Saya (Jamil Azzaini) berkenalan dengan lelaki asal Banyuwangi bernama Budi Harta Winata saat umroh Januari 2015. Selama umroh bersama ia bercerita banyak tentang perjalanan hidupnya.

Tergiur dengan iklan untuk bekerja di kapal pesiar, lelaki ini justru pernah dipekerjakan di kapal pembawa kayu illegal ke Malaysia. Saat hendak melarikan diri dari “jebakan” mafia tersebut ia harus bertaruh nyawa untuk menyelamatkan diri.

Setelah 12 tahun menjadi karyawan, ia mencoba peruntungan hidupnya dengan membuka bengkel tralis pada tahun 2007. Lokasi bengkel yang awalnya menyewa, kini telah meluas menjadi 1 hektar lebih dan telah menjadi milik sendiri. Karyawan di workshopnya mencapai hampir 400 orang dan di saat order ramai, yang ikut bekerja bisa mencapai 1000 orang.

Di bawah bendera Artha Mas Graha Andalan, usaha yang bergerak di konstruksi baja ini terus berkibar dan sering mendapat rezeki dari arah yang tidak diduga-duga. Apa “resep” rahasianya? Lelaki beristrikan Siti Saodah ini yakin bila hidup selalu berharap (berdoa) hanya kepada Allah dan menjadikan orang tua sebagai raja, rezeki selayaknya raja akan dikirimkan Allah tanpa mengenal waktu.

Selain dua hal tersebut, tiga kunci keberhasilan bisnis ayah dari Ananta Nugraha (12) dan Hiraita Genta (4) adalah perbaiki hubungan dengan manusia, sedekah sampai kita merasa kehilangan dan banyak bersyukur.

“Jangan berharap Anda menjadi pebisnis dengan untung fantastis apabila hubungan Anda dengan sesama manusia tidak baik. Jika kehidupan Anda susah, karir tidak berkembang atau usaha tidak tumbuh melesat coba periksa hubungan Anda dengan orang tua, saudara, sahabat dan orang-orang di sekitar Anda.” Begitulah pemahaman lelaki yang hobinya mentraktir orang ini.

Selain itu, ia yakin bahwa sedekah itu pintu datangnya rezeki. Dan apabila rezeki ingin datang dalam jumlah yang sangat besar maka sedekah yang dikeluarkan bukan sedekah biasa. Lelaki berusia 38 tahun ini bercerita kepada saya, “Sedekah terbaik itu sampai kita merasa sangat kehilangan, dengan kata lain sedekah dengan jumlah ekstrim dengan harta yang paling kita sukai. Sekali-kali kita perlu melakukan ini untuk memancing rezeki yang besar.”

Sementara agar selalu bersyukur ia selalu membandingkan hidupnya saat ia lulus SMA. “Saat kita lulus SMA kita punya apa? Sekarang kita punya apa? Nah, bila kita punya banyak hal yang tidak kita miliki dibandingkan saat kita lulus SMA dulu maka bersyukurlah.”

Pria penggemar motor gede ini, juga menuturkan kepada saya, “Dulu saya ikut mertua, sekarang sudah punya rumah sendiri. Syukuri, Dulu mau beli motor saja susah, sekarang sudah punya banyak motor, syukuri. Banyak hal yang harus kita syukuri. Saat kita banyak bersyukur maka semakin pantas kita menerima dan mengelola duit yang gede. Orang yang banyak mengeluh memang belum pantas ditambahi rezeki.”

Anda ingin Sukses seperti lelaki pendiri pesantren tahfidz yang kini santrinya 400 orang lebih ini? Jangan hanya ingin suksesnya saja, ikuti pula kunci suksesnya: Berharapa hanya kepada Allah, jadikan orang tua Anda seperti raja, perbaiki hubungan dengan sesama manusia, sedekah sampai kita merasa kehilangan dan banyak-banyaklah bersyukur. Mau?

Salam SuksesMulia!

Dikutif seutuhnya dari sumber www.jamilazzaini.com

Popularity: 4% [?]

LOYO…!
Mar 29th, 2015 by admin

Loyo itu bermakna sangat lemah atau tak berdaya. Hampir setiap orang pasti pernah loyo, sekali-kali itu manusiawi. Akan tetapi tentu tidak baik apabila kita sering loyo. Oleh karena itu, Anda perlu merenung sejenak memikirkan hidup Anda apabila sering loyo.

Apa yang membuat seseorang sering loyo? Pertama, ia tidak punya visi hidup yang jelas. Hidup hanya sekedar hidup. Sibuk dengan rutinitas tanpa punya alasan yang kuat mengapa dia harus beraktivitas. Tidak ada sesuatu yang diperjuangkan dalam hidupnya. Ia sebenarnya robot berwujud manusia.

Kedua, ia tidak punya keahlian apapun. Sebenarnya setiap orang pasti punya kelebihan dan kekuatan. Namun, orang-orang yang sering loyo ini enggan berusaha keras mencari apa kelebihan dan kekuatannya. Atau, bila ia sudah sadar akan kelebihan dan kekuatannya, ia enggan mengasahnya dan melatihanya. Akhirnya, ia tak punya kelebihan yang menonjol di bidang apapun.

Ketiga, ia tidak menikmati hidupnya. Yang terpapar dalam pikiran dan hatinya adalah keluhan dan hal-hal negatif. Dalam makna lain, ia kurang mensyukuri hidupnya. Ia susah melihat, merasakan dan mendengar betapa lebih banyak kenikmatan, kebahagiaan dan hal-hal positif yang ada di sekitarnya.

Nah, saat Anda mulai loyo. Coba periksalah ketiga hal tersebut di atas. Hidup terlalu singkat, sungguh malu apabila kita masih punya banyak waktu untuk loyo. Ayo agar banyak orang terhindar dari loyo, sebarkan tulisan ini.

Salam SuksesMulia!

Dikutip seutuhnya dari sumber www.janilazzaini.com

Popularity: 4% [?]

Top 10 eLearning Trends For 2015 Infographic
Feb 19th, 2015 by admin

Top 10 eLearning Trends For 2015 Infographic
Find more education infographics on e-Learning Infographics

10 eLearning Trends to Follow in 2015 Infographic
10 eLearning Trends to Follow in 2015 Infographic shows elearning professionals what to follow in the coming year.
1. Big Data
Numbers in eLearning are becoming so large that processing user generated data using traditional methods is becoming impossible.
How big data analysis can improve e-learning?
• By deeper understanding of the learning process.
Example: Statistics on completion time and rate.
• By helping track learner and group patterns.
Example: How people click and go over the material.
• Personalized courses.
Example: What are the differences in behavior for certain user cohorts.
• Feedback analysis.
Example: Where learners spend more time and which parts they find harder.
• Helping to compile a comprehensive ROI report for learning, by combining multiple sources of information.
2. Gamification
Gamification is the concept of applying game mechanics and game design techniques to engage and motivate people to achieve their goals. Gamification taps into the basic desires and needs of the user, focusing on impulses which revolve around the ideas of Status and Achievement.
Why is gamification important
• Learners recall just 10% of what they read and 20% of what they hear. If there are visuals accompanying an oral presentation, the number rises to 30% and if they observe someone carrying out an action while explaining it, 50%. But learners remember 90% if they do the job themselves, even if it is only a simulation.
• Almost 80% of learners say that they would be more productive it their university/ institution or work was more game-like;
• Almost 90% of users find online competitions fun but 60% of them point out that it’s only fun sometimes; something that shows that implementation matters.
3. Personalized Learning
Personalized Learning is the tailoring of pedagogy, curriculum and learning environments to meet the needs and aspirations of individual learners.
Aspects of Personalized Learning
• Adjusting the pace of instructions, so that they are more individualized.
• Adjusting the learning approach, so that instructions are differentiated.
• Allowing the users to choose their own learning path
• Adjusting the form of content presentation betwwen text and audio or video
• Leveraging student interests and experiences
4. Mobile Learning
As mobile use continues to grow, mobile will become the dominant medium for offering learning material.
Benefits of Mobile Learning
• Easy access – users can access the course anywhere and anytime they need it.
• Contextual learning – thanks to QR codes, GPS and other technologies, mobile learning lets you put learning into context, depending on the location of the learner. It’s also a great base for using augmented reality;
• Digestible content – smaller screens force educators to deliver content in smaller chunks, which makes it easier for learners to remember what they learnt;
5. Focus on Return-on-Investment
Return on Investment (ROI) compares the investment in a training deliverable with the benefits over a specified period of time. Despite the traditional difficulties of calculating ROI, its importance will rise, as it provides a strong argument in favor of e-learning.
What to consider when calculating ROI:
Costs
• Personnel – instructional designers, administrators.
• Technology – IT infrastructure LMS etc.
• Content – courses, virtual materials
• Other, hidden promotional costs
Benefits
• Travel savings
• Trainer cost savings
• Savings on any training loistics – fascilities
6. APIs
Application Programming Interface (API) is basically the way applications communicate with each other. The widely accepted SCORM and Tin Can are two examples of APIs in eLearning. Systems like Zapier, offer non-programmable ways to integrate APls between services and achieve desired effects.
Possible uses of APIs in an elearning context:
• New user in your LMS > New user in CRM
• User finished eLearning course > Email triggered to instructor
• User gets a badge > Share on user’s LinkedIn or Badgepack
• New course is created > Newsletter sent to users
7. Automation
Content creation is a tedious and time consuming process. If we could somehow automate the process of content creation then we could potentially create a revolution in the quantity and quality of online courses.
Possible automation of course creation
• Quizzes, tests and exercises generated automatically from the course content.
• Algorithmically generated course content
• Customizing courses for each user by automatically matching content or difficulty to user skills
8. Augmented Learning
Augmented learning is an on-demand learning technique where the environment adapts to the learner. Augmented Reality market is expected to grow significantly – from 60 million users in 2013 to 200 million in 2018.
Possible uses of augmented learning
• QR code hunting
• Courses developed for Oculus Rift
• Location-based functionalities. Engaging learners into real life activities based on GPS tracking.
• Apple Watch and Google Glass apps extending the courses
9. Corporate MOOCS
Massive Open Online Courses are open courses for large numbers of users. MOOCs are often used by top universities. In the last few years MOOCs have also been getting more popular among companies and organizations.
Possible corporate use of MOOCs:
• Employee training – internal training of big groups of employees.
• Future employee training – open courses for teaching skills that are tailored to the company’s needs
• Corporate Social Responsibility – sharing knowledge and skills and increasing brand recognition
10. Rise of cloud LMS
Despite speculations about the death of LMS, last years showed continued growth in the industry. Forecasts for 2015 predict it will continue to grow. Out of all learning systems, cloud-based platforms had the highest growth in the last two years.
Statistics
• Forecasts show that Learning Management Systems Cloud will grow at a rate of 25% for the next five years, reaching $7,83 billion in 2018.
• Cloud based authoring tools and learning platforms experienced over 50%+ growth in North America last year.
• Predicted growth of one of the top cloud-based LMS, Talent LMS, for 2015 is over 200%. TalentLMS is a cloud based Learning Management System (LMS) that offers an extremely easy way to create your courses and engage your trainees in learning.
Via: blog.talentlms.com

Popularity: 5% [?]

Syarat Ibadah Diterima Allah SWT
Jan 10th, 2015 by admin

Sekedar melanjutkan apa yang disampaikan oleh khatib dalam Khutbah Jumat, pada tanggal 9 Januari 2015. Ada informasi (pengetahuan) yang disampaikan oleh khatib yang patut kita renungkan dan kita laksanakan, yaitu pengetahuan tentang bagaimana agar ibadah kita diterima Allah SWT. Bagi sebagian kita bisa jadi pengetahuan ini bukanlah hal yang baru. Kalau itu keadaannya paling tidak informasi ini bisa dijadikan sebagai penyegar ingatan kita (refreshing). Namun bagi sebagian lain yang belum mengetahuinya, tentu menjadi penting agar ibadah yang kita lakukan tidak sia-sia.
Dalam khutbahnya, khatib mengatakan bahwa ada dua persyaratan agar ibadah kita diterima Allah SWT, yaitu ibadah yang kita lakukan harus (1) ikhlas, dan (2) sesuai dengan aturan atau tata cara melaksanakan ibadah yang sedang kita lakukan. Ikhlas dalam pengertian bahwa apa yang kita lakukan adalah semata-mata karena Allah SWT; tidak ada niat dan tujuan lain dalam beribadah selain dari Lillahita’ala. Keikhlasan sendiri sesungguhnya merupakan implementasi dari syahadat yang pertama, yaitu Asyhadu allaa ilaaha illallah. Dengan syahadat ini kita menyatakan bahwa tidak ada illah selain Allah; tidak ada sesuatu apapun yang patut disembah dan mendapatkan persembahan dari kita selain dari Allah SWT.
Oleh karena itu, sangatlah wajar kalau keikhlasan dalam melaksanakan ibadah menjadi persyaratan utama. Sebanyak apapun ibadah yang kita lakukan, kalau tidak ikhlas, tidak akan diterima oleh Allah SWT, karena itu berarti ibadah yang kita lakukan memang tidak dipersembahkan untuk-Nya. Ini juga bisa diartikan ada pihak lain yang menjadi “tempat” persembahan, selain Allah. Naudzubillahiminzalik.
Kedua ibadah yang kita lakukan harus sesuai dengan aturan dan tata cara sebagaimana yang pernah ditunjukkan oleh Nabiyullah Muhammad SAW. Beliau adalah sosok manusia sempurna yang menjadi suri tauladan dalam pola pikir dan pola perilaku dalam kehidupan sehari-hari termasuk dalam melaksanakan ibadah. Beliau adalah perwujudan dari esensi ajaran islam. Beliau telah menunjukkan dengan sempurna bagaimana islam dilaksanakan baik dalam kehidupan yang menyangkut tata kehidupan sehari-hari maupun dalam beribadah. Bila kita mampu meneladani beliau dalam berbagai aspek kehidupan, itu berarti kita telah mewujudkan syahadat kita yang kedua, yaitu kita menyatakan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah (Rasullullah)
Wallahu’alam bishowab, mudah-mudahan Allah SWT memberi petunjuk dan menerima ibadah kita. Amin YRA.

Popularity: 6% [?]

Ilmu Pendidikan dan Fakultas Ilmu Pendidikan, Kembali Digugat
Dec 14th, 2014 by admin

Pada tanggal 25 November 2014, bertepatan dengan hari guru, penulis menghadiri acara peluncuran buku “Teknologi Pendidikan dalam Pendidikan Jarak Jauh” karya Prof. Dr. Atwi Suparman, yang sekaligus acara pelepasan purna bakti beliau selaku PNS. Acara diselenggarakan di Balai Sidang UT, Pondok Cabe, Tangerang. Pada sesi diskusi, salah seorang Profesor “Pendidikan Sejarah” dari UT mengemukakan “kegelisahannya”. Beliau menyatakan — yang intinya adalah — bahwa ilmu pendidikan yang selama ini dipelajarinya sesungguhnya bersumber dari Pedagogiek yang dikemukakan oleh Langeveld, dan sejak itu tidak ada lagi perkembangan teori-teori tentang “ilmu pendidikan”. Saat ini yang ada hanya pendidikan sejarah, pendidikan matematika, dll. Beliau merasa sebagai Guru Besar dalam bidang ilmu pendidikan tidak lagi pas disebut demikian, karena ilmu pendidikan telah lama “mati”. Oleh karenanya maka fakultas ilmu pendidikan juga sudah tidak lagi sesuai, karena ilmu pendidikannya sudah tiada.
Isu yang dikemukakan oleh Profesor tersebut sesungguhnya bukanlah isu baru. Beberapa tahun lalu, Prof. Tilaar juga telah menyatakan bahwa ilmu pendidikan telah “mati suri”. Apabila kita melihat dari perkembangan ilmu pendidikan sebagai sebuah ilmu teoritis dan sejak Langeveld tidak ada lagi teori-teori pendidikan yang berhasil dikembangkan, maka bisa jadi kemudian ilmu pendidikan dinyatakan telah “mati suri”. Tetapi kalau kita sepakat bahwa bila bicara ilmu pendidikan bisa dilihat dari dimensi praktis, maka sangat sulit diterima bahwa ilmu pendidikan telah “mati suri” apalagi “mati” sungguhan. Pada tataran praktis ilmu pendidikan telah berkembang dengan pesat seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi “lain” yang mendukungnya. Bukankah praktek-praktek pendidikan sejarah, pendidikan matematika, dll merupakan wujud dari penerapan ilmu pendidikan praktis. Bagaimana mungkin melaksanakan pendidikan sejarah, pendidikan matematika, dll tanpa didasari oleh “ilmu pendidikan”.
Menanggapi permasalahan bahwa ilmu pendidikan teoritis yang telah lama “mati suri”, penulis melihat sangat bergantung pada sikap kita sebagai ilmuwan, profesional, akademisi, apalagi guru besar dalam bidang ilmu pendidikan. Ada dua pilihan sikap yang mungkin diambil, pertama adalah kita membiarkan ilmu pendidikan itu terus “mati suri” sampai akhirnya benar-benar mati sungguhan, sehingga praktek-praktek pendidikan yang kita lakukan tidak lagi didasarkan pada teori yang kuat. Atau kedua, hati dan jiwa kita terpanggil untuk “menghidupkannya” kembali menjadi ilmu yang terus eksis dan berkembang untuk membantu praktek pendidikan menjadi lebih baik. Sebagai ilmuwan pendidikan “sejati” tentunya pilihan sikap kedua yang harus kita ambil, karena kita memiliki tanggung jawab moral dan profesional untuk melaksanakan berbagai praktek pendidikan yang didasari oleh teori-teori ilmu pendidikan yang kuat. Oleh karena itu, kita juga punya tanggung jawab untuk terus melakukan berbagai kajian yang mendalam tentang ontologi ilmu pendidikan yang sesungguhnya.
Bagaimana sikap anda?

Popularity: 6% [?]

Langkah-langkah Install Program Sahabat
Mar 9th, 2014 by admin

1. KLIK 2x file setup (hasil unduhan) dari web www.ilmupendidikan.net

explorer

explorer


2. Akan tampil halaman berikut, kemudian pilih Destination Folder pada posisi Drive C untuk offline atau pada server untuk online, dan KLIK tombol Intall
Drive C

Drive C


3. Akan tampil halaman berikut, dan tunggu sampai proses selesai. Kalau sudah completed KLIK tombol Close
Proces Complete

Proces Complete


4. Kemudian buka, windows explorer –> Drive C –> folder xampp
Explorer_2

Explorer_2


5. Kemudian KLIK 2x file xampp-control, dan akan tampil halaman XAMPP Control Panel Application berikut:
Xampp

Xampp


6. Kemudian aktifkan program Apache dan MySql, dengan memberi tanda cek (v) pada kotak Svc dan meng-KLIK tombol Start
Xampp Running

Xampp Running


7. Kalau keduanya sudah Running, buka web browser Anda, dan buka / tuliskan: localhost/system_evaluasi untuk yang mode offline

Maka akan tampil halaman validasi yang meminta kode validasi.

8. Isikan kode validasi yang diperoleh dari email khaerudin.tp.sehat@gmail.com

Kalau Anda belum mendapatkannya minta kode validasi tersebut dengan mengirimkan data berikut:
* nama sekolah,
* nama mata pelajaran,
* formatnya (online atau offline)” ke alamat email di atas.

Anda juga akan mendapatkan Pedoman Pemanfaatan Sahabat secara lengkap

Selamat mencoba…

Popularity: 14% [?]

DISORIENTASI DUNIA PENDIDIKAN KITA
May 2nd, 2013 by admin

Carut marut dunia pendidikan kita selalu menjadi perbincangan yang menarik banyak pihak namun sampai saat ini belum menghasilkan solusi yang jitu untuk mengatasinya. Hal ini disebabkan karena masing-masing pihak memiliki persepsi, kriteria, harapan dan kepentingan yang berbeda tentang keberadaan dan proses pendidikan di negeri kita tercinta ini. Perbedaan pada tataran implementasi bisa saja terjadi dan mungkin harus terjadi, karena proses pendidikan harus disesuaikan dengan situasi dan kondisi peserta didik, aspek sosial budaya masyarakat tempat pendidikan itu berlangsung. Namun kalau perbedaan itu terjadi pada aspek filosofi dan kalaupun sama filosofinya namun terjadi perbedaan dalam menginterprestasi filosofi tersebut, ini yang berbahaya. Tampaknya kondisi inilah yang terjadi di negeri kita ini. Kita semua sepakat bahwa pendidikan kita harus berkualitas. Namun kalau kita tanya pendidikan seperti apa yang berkualitas tersebut, apa indikator pendidikan yang berkualitas. Jawabannya sangat beragam dan bahkan adakalanya tidak sejalan antara pendapat satu dengan pendapat lainnya.
Dalam melihat kondisi pendidikan kita saat ini, tentu setiap orang akan memiliki pandangan yang berbeda, bergantung dari sisi mana kita melihatnya. Kalau perbedaan tersebut terjadi pada tataran praksis barangkali tidak akan berakibat terlalu berarti. Tetapi apabila perbedaan tersebut terjadi pada tataran filosofis maka bisa jadi akan berakibat pada perbedaan keseluruhan proses pendidikan yang kita laksanakan. Diantara perbedaan persepsi atau pemahaman yang berakibat pada carut marutnya dunia pendidikan adalah berkenaan dengan apa yang disebut pendidikan BERKUALITAS bahkan lebih khusus lagi tentang sekolah berkualitas. Ya, kita semua belum ada kesepahaman tentang apa yang disebut dengan pendidikan atau sekolah berkualitas.

Sementara orang ada yang memandang bahwa pendidikan berkualitas adalah pendidikan yang menghasilkan anak-anak yang memiliki wawasan dan pengetahuan yang luas, sehingga bisa menjadi juara dalam berbagai lomba dan olimpiade. Sejalan dengan pendapat ini, mereka berpendapat pendidikan atau sekolah berkualitas adalah mereka yang bisa meluluskan 100% siswa-siswinya dan mendapat skor tinggi dari hasil ujian nasional. Akibat dari pihak yang mempersepsikan kualitas pendidikan seperti ini adalah mereka mengerahkan sebagian besar sumber daya yang mereka miliki untuk mengajar siswa-siswinya dengan sejumlah pengetahuan yang bersifat teoretik dan faktual untuk dihafal dan difahami. Dalam kesempatan lain siswa-siswi mereka didrill dalam menjawab sejumlah soal dan diajari trik cara menentukan jawaban yang benar tanpa harus memahami konsep dan prinsip yang ditanyakan dalam soal. Bahkan tidak sedikit sekolah yang kemudian menyerahkan persiapan siswa-siswi mereka ke lembaga bimbingan belajar. Strategi pembelajaran seperti itu memang adalah strategi yang paling efektif untuk mencapai tujuan mereka yaitu mendapatkan predikat sekolah berkualitas.

Ada pihak lain yang memandang pendidikan dan sekolah berkualitas adalah mereka yang mengasilkan lulusan yang memiliki kompetensi setara dengan standar internasional. Oleh karena itu, untuk mencapai predikat pendidikan dan sekolah berkualitas mereka kemudian berlomba menyelenggarakan pendidikan dengan mengadopsi kurikulum dari luar negeri. Dengan cara seperti itu mereka berkeyakinan akan meluluskan siswa-siswi yang berkualitas dan bertaraf internasional.

Tidak usah heran Pemerintah pun memiliki persepsi sendiri tentang pendidikan dan sekolah berkualitas. Hal ini dapat dilihat dari berbagai kebijakan yang dikeluarkan Pemerintah yang sering tidak konsisten (berubah), namun semuanya berlindung pada argumen demi meningkatkan kualitas pendidikan kita. Perubahan kurikulum yang dikembangkan dengan pendekatan yang berbeda menunjukkan Pemerintah memiliki perbedaan tentang pendidikan dan sekolah berkualitas yang ingin diwujudkannya.

Apa jadinya nasib pendidikan kita kalau diantara mereka yang berkepentingan dengan dunia pendidikan memiliki persepsi dan pandangan yang berbeda tentang arah dan target pendidikan yang dilaksanakannya. Apa sesungguhnya yang bisa dijadikan satu kriteria tentang kualitas pendidikan dan sekolah kita. Kemana arah pendidikan dan sekolah kita bergerak untuk mewujudkan pendidikan dan sekolah berkualitas?

Popularity: 22% [?]

KERANGKA ACUAN PENGEMBANGAN KURIKULUM PGTK ISLAM
Oct 9th, 2011 by admin

OLEH : DRS. KHAERUDIN
Dosen Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan FIP UNJ

Disampaikan dalam acara Workshop Kurikulum Program Diploma PGSDI dan PGTKI, yang diselenggarakan oleh Kopertais Wilayah I DKI Jakarta, 30 Juni 2001

A. Pendahuluan
Sejak dibubarkannya Sekolah Pendidikan Guru (SPG) pada awal tahun ’90-an, penyediaan tenaga guru yang profesional sempat mengalami kevakuman. Alasan pembubaran SPG ini diantaranya adalah karena kualifikasi lulusan SPG dianggap sudah tidak lagi memadai untuk membina dan membimbing anak-anak sekolah. Namun sayangnya pemerintah tidak segera mendirikan lembaga baru sebagai pengganti yang dianggapnya memadai untuk mendidik para guru pada tingkat TK dan SD tersebut. Padahal kebutuhan guru di masyarakat semakin banyak dengan semakin menjamurnya TK, baik itu TK umum, TK Islam, Kelompok Bermain (Play Group), dan TK Alquran serta penitipan anak. Dihampir setiap sudut kampung, saat ini, telah terdapat lembaga pendidikan jenis ini. Read the rest of this entry »

Popularity: 37% [?]

Mencapai Kebahagiaan
Sep 7th, 2011 by admin

Kalau kita tanya setiap orang yang ada di sekitar kita tentang apa yang mereka dambakan dalam kehidupannya, pasti sebagian besar diantara mereka menyebutkan kata bahagia. Ya, kebahagiaan adalah menjadi dambaan hampir setiap orang dalam menjalani kehidupannya. Permasalahannya adalah apakah mereka faham apa itu kebahagiaan. Kebahagian model apa yang mereka dambakan, dan hal yang paling penting adalah apa yang mempengaruhi kebahagiaan itu bisa terwujud.
Dalam kaitan dengan pertanyaan terakhir, Prof. Dr. Komarudin Hidayat (Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta), dalam ceramaha Halal Bihalal sivitas akademika UNJ, Rabu, 7 September 2011, merujuk pada satu buku berjudul The Happiness, menyatakan bahwa terdapat tujuh faktor yang akan mempengaruhi kebahagiaan seseorang, yaitu:
1. Hubungan keluarga (partnership of family).
2. Situasi finansial (Financial situation)
3. Pekerjaan (Job/work)
4. Teman dan komunitas (Friends an community)
5. Kesehatan (Health)
6. Kemerdekaan pribadi (Personal freedom)
7. Nilai pribadi (Personal values)

Popularity: 35% [?]

RANAH OLAH PIKIR KI HAJAR DEWANTARA
Mar 11th, 2011 by admin

Oleh: Khaerudin

Pengantar
Bila kita berbicara tentang klasifikasi hasil belajar, rujukan utama kita selalu mengacu pada taksonomi Bloom, yang membagi hasil belajar pada tiga ranah, yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik. Sesungguhnya kita memiliki banyak tokoh pendidikan yang mengemukakan hasil belajar/pendidikan yang lebih komprehensif. Namun memang disayangkan dalam berbagai kajian akademik yang dilakukan para akademisi jarang yang mengacu pada “taksonomi” yang dikemukakan oleh para tokoh pendidikan kita. Kondisi ini tentu menimbulkan pertanyaan mengapa hal itu terjadi? Apakah pendapat para tokoh pendidikan kita tidak “membumi” sehingga tidak dapat diimplementasikan? Atau apakah karena hasil pemikiran para tokoh kita tidak dapat dikategorikan sebagai sebuah teori sehingga tidak layak dijadikan rujukan kajian akademik? Read the rest of this entry »

Popularity: 40% [?]

»  Substance: WordPress   »  Style: Ahren Ahimsa