»
S
I
D
E
B
A
R
«
Langkah-langkah Install Program Sahabat
Mar 9th, 2014 by admin

1. KLIK 2x file setup (hasil unduhan) dari web www.ilmupendidikan.net

explorer

explorer


2. Akan tampil halaman berikut, kemudian pilih Destination Folder pada posisi Drive C untuk offline atau pada server untuk online, dan KLIK tombol Intall
Drive C

Drive C


3. Akan tampil halaman berikut, dan tunggu sampai proses selesai. Kalau sudah completed KLIK tombol Close
Proces Complete

Proces Complete


4. Kemudian buka, windows explorer –> Drive C –> folder xampp
Explorer_2

Explorer_2


5. Kemudian KLIK 2x file xampp-control, dan akan tampil halaman XAMPP Control Panel Application berikut:
Xampp

Xampp


6. Kemudian aktifkan program Apache dan MySql, dengan memberi tanda cek (v) pada kotak Svc dan meng-KLIK tombol Start
Xampp Running

Xampp Running


7. Kalau keduanya sudah Running, buka web browser Anda, dan buka / tuliskan: localhost/system_evaluasi untuk yang mode offline

Maka akan tampil halaman validasi yang meminta kode validasi.

8. Isikan kode validasi yang diperoleh dari email khaerudin.tp.sehat@gmail.com

Kalau Anda belum mendapatkannya minta kode validasi tersebut dengan mengirimkan data berikut:
* nama sekolah,
* nama mata pelajaran,
* formatnya (online atau offline)” ke alamat email di atas.

Anda juga akan mendapatkan Pedoman Pemanfaatan Sahabat secara lengkap

Selamat mencoba…

Popularity: 2% [?]

DISORIENTASI DUNIA PENDIDIKAN KITA
May 2nd, 2013 by admin

Carut marut dunia pendidikan kita selalu menjadi perbincangan yang menarik banyak pihak namun sampai saat ini belum menghasilkan solusi yang jitu untuk mengatasinya. Hal ini disebabkan karena masing-masing pihak memiliki persepsi, kriteria, harapan dan kepentingan yang berbeda tentang keberadaan dan proses pendidikan di negeri kita tercinta ini. Perbedaan pada tataran implementasi bisa saja terjadi dan mungkin harus terjadi, karena proses pendidikan harus disesuaikan dengan situasi dan kondisi peserta didik, aspek sosial budaya masyarakat tempat pendidikan itu berlangsung. Namun kalau perbedaan itu terjadi pada aspek filosofi dan kalaupun sama filosofinya namun terjadi perbedaan dalam menginterprestasi filosofi tersebut, ini yang berbahaya. Tampaknya kondisi inilah yang terjadi di negeri kita ini. Kita semua sepakat bahwa pendidikan kita harus berkualitas. Namun kalau kita tanya pendidikan seperti apa yang berkualitas tersebut, apa indikator pendidikan yang berkualitas. Jawabannya sangat beragam dan bahkan adakalanya tidak sejalan antara pendapat satu dengan pendapat lainnya.
Dalam melihat kondisi pendidikan kita saat ini, tentu setiap orang akan memiliki pandangan yang berbeda, bergantung dari sisi mana kita melihatnya. Kalau perbedaan tersebut terjadi pada tataran praksis barangkali tidak akan berakibat terlalu berarti. Tetapi apabila perbedaan tersebut terjadi pada tataran filosofis maka bisa jadi akan berakibat pada perbedaan keseluruhan proses pendidikan yang kita laksanakan. Diantara perbedaan persepsi atau pemahaman yang berakibat pada carut marutnya dunia pendidikan adalah berkenaan dengan apa yang disebut pendidikan BERKUALITAS bahkan lebih khusus lagi tentang sekolah berkualitas. Ya, kita semua belum ada kesepahaman tentang apa yang disebut dengan pendidikan atau sekolah berkualitas.

Sementara orang ada yang memandang bahwa pendidikan berkualitas adalah pendidikan yang menghasilkan anak-anak yang memiliki wawasan dan pengetahuan yang luas, sehingga bisa menjadi juara dalam berbagai lomba dan olimpiade. Sejalan dengan pendapat ini, mereka berpendapat pendidikan atau sekolah berkualitas adalah mereka yang bisa meluluskan 100% siswa-siswinya dan mendapat skor tinggi dari hasil ujian nasional. Akibat dari pihak yang mempersepsikan kualitas pendidikan seperti ini adalah mereka mengerahkan sebagian besar sumber daya yang mereka miliki untuk mengajar siswa-siswinya dengan sejumlah pengetahuan yang bersifat teoretik dan faktual untuk dihafal dan difahami. Dalam kesempatan lain siswa-siswi mereka didrill dalam menjawab sejumlah soal dan diajari trik cara menentukan jawaban yang benar tanpa harus memahami konsep dan prinsip yang ditanyakan dalam soal. Bahkan tidak sedikit sekolah yang kemudian menyerahkan persiapan siswa-siswi mereka ke lembaga bimbingan belajar. Strategi pembelajaran seperti itu memang adalah strategi yang paling efektif untuk mencapai tujuan mereka yaitu mendapatkan predikat sekolah berkualitas.

Ada pihak lain yang memandang pendidikan dan sekolah berkualitas adalah mereka yang mengasilkan lulusan yang memiliki kompetensi setara dengan standar internasional. Oleh karena itu, untuk mencapai predikat pendidikan dan sekolah berkualitas mereka kemudian berlomba menyelenggarakan pendidikan dengan mengadopsi kurikulum dari luar negeri. Dengan cara seperti itu mereka berkeyakinan akan meluluskan siswa-siswi yang berkualitas dan bertaraf internasional.

Tidak usah heran Pemerintah pun memiliki persepsi sendiri tentang pendidikan dan sekolah berkualitas. Hal ini dapat dilihat dari berbagai kebijakan yang dikeluarkan Pemerintah yang sering tidak konsisten (berubah), namun semuanya berlindung pada argumen demi meningkatkan kualitas pendidikan kita. Perubahan kurikulum yang dikembangkan dengan pendekatan yang berbeda menunjukkan Pemerintah memiliki perbedaan tentang pendidikan dan sekolah berkualitas yang ingin diwujudkannya.

Apa jadinya nasib pendidikan kita kalau diantara mereka yang berkepentingan dengan dunia pendidikan memiliki persepsi dan pandangan yang berbeda tentang arah dan target pendidikan yang dilaksanakannya. Apa sesungguhnya yang bisa dijadikan satu kriteria tentang kualitas pendidikan dan sekolah kita. Kemana arah pendidikan dan sekolah kita bergerak untuk mewujudkan pendidikan dan sekolah berkualitas?

Popularity: 15% [?]

KERANGKA ACUAN PENGEMBANGAN KURIKULUM PGTK ISLAM
Oct 9th, 2011 by admin

OLEH : DRS. KHAERUDIN
Dosen Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan FIP UNJ

Disampaikan dalam acara Workshop Kurikulum Program Diploma PGSDI dan PGTKI, yang diselenggarakan oleh Kopertais Wilayah I DKI Jakarta, 30 Juni 2001

A. Pendahuluan
Sejak dibubarkannya Sekolah Pendidikan Guru (SPG) pada awal tahun ’90-an, penyediaan tenaga guru yang profesional sempat mengalami kevakuman. Alasan pembubaran SPG ini diantaranya adalah karena kualifikasi lulusan SPG dianggap sudah tidak lagi memadai untuk membina dan membimbing anak-anak sekolah. Namun sayangnya pemerintah tidak segera mendirikan lembaga baru sebagai pengganti yang dianggapnya memadai untuk mendidik para guru pada tingkat TK dan SD tersebut. Padahal kebutuhan guru di masyarakat semakin banyak dengan semakin menjamurnya TK, baik itu TK umum, TK Islam, Kelompok Bermain (Play Group), dan TK Alquran serta penitipan anak. Dihampir setiap sudut kampung, saat ini, telah terdapat lembaga pendidikan jenis ini. Read the rest of this entry »

Popularity: 36% [?]

Mencapai Kebahagiaan
Sep 7th, 2011 by admin

Kalau kita tanya setiap orang yang ada di sekitar kita tentang apa yang mereka dambakan dalam kehidupannya, pasti sebagian besar diantara mereka menyebutkan kata bahagia. Ya, kebahagiaan adalah menjadi dambaan hampir setiap orang dalam menjalani kehidupannya. Permasalahannya adalah apakah mereka faham apa itu kebahagiaan. Kebahagian model apa yang mereka dambakan, dan hal yang paling penting adalah apa yang mempengaruhi kebahagiaan itu bisa terwujud.
Dalam kaitan dengan pertanyaan terakhir, Prof. Dr. Komarudin Hidayat (Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta), dalam ceramaha Halal Bihalal sivitas akademika UNJ, Rabu, 7 September 2011, merujuk pada satu buku berjudul The Happiness, menyatakan bahwa terdapat tujuh faktor yang akan mempengaruhi kebahagiaan seseorang, yaitu:
1. Hubungan keluarga (partnership of family).
2. Situasi finansial (Financial situation)
3. Pekerjaan (Job/work)
4. Teman dan komunitas (Friends an community)
5. Kesehatan (Health)
6. Kemerdekaan pribadi (Personal freedom)
7. Nilai pribadi (Personal values)

Popularity: 35% [?]

RANAH OLAH PIKIR KI HAJAR DEWANTARA
Mar 11th, 2011 by admin

Oleh: Khaerudin

Pengantar
Bila kita berbicara tentang klasifikasi hasil belajar, rujukan utama kita selalu mengacu pada taksonomi Bloom, yang membagi hasil belajar pada tiga ranah, yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik. Sesungguhnya kita memiliki banyak tokoh pendidikan yang mengemukakan hasil belajar/pendidikan yang lebih komprehensif. Namun memang disayangkan dalam berbagai kajian akademik yang dilakukan para akademisi jarang yang mengacu pada “taksonomi” yang dikemukakan oleh para tokoh pendidikan kita. Kondisi ini tentu menimbulkan pertanyaan mengapa hal itu terjadi? Apakah pendapat para tokoh pendidikan kita tidak “membumi” sehingga tidak dapat diimplementasikan? Atau apakah karena hasil pemikiran para tokoh kita tidak dapat dikategorikan sebagai sebuah teori sehingga tidak layak dijadikan rujukan kajian akademik? Read the rest of this entry »

Popularity: 43% [?]

Pelatihan PTK dengan E-Learning
Aug 20th, 2010 by admin

Program Pelatihan PTK dengan E-learning ini disediakan untuk umum. Peserta akan didampingi secara online dalam melakukan PTK, mulai dari pemahaman prinsip-prinsip PTK, penulisan proposal, pembuatan instrumen, pelaksanaan penelitian, sampai pada penulisan laporan. Selain uraian materi, peserta difasilitasi dengan Forum dan Chating untuk berkomunikasi dengan tutor dan peserta lain. Untuk mengetahui kemajuan belajar, peserta dapat mengerjakan Kuisdan Tes yang hasilnya dapat diketahui secara langsung, disertai dengan umpan baliknya. Peserta juga dapat menuangkan ide-idenya melalui Blog, yang dapat dibaca oleh peserta lain.

Belajar lebih lanjut

Popularity: 52% [?]

PENDIDIKAN ISLAM DALAM KELUARGA DAN MASYARAKAT
Aug 19th, 2010 by admin

Oleh : Fitri Lestari Issom, S. Pd., M. Si
(fitri_issom@yahoo.com)

Abstrak

Pendidikan dalam Islam memiliki kedudukan yang tinggi. Hal ini dibuktikan dengan disebutkannya konsep pendidikan dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits berulang kali.
Pendidikan hendaknya jangan hanya dituangkan dalam pengetahuan semata-mata kepada anak didik, tetapi harus juga diperhatikan pembinaan moral, sikap dan tingkah laku. Oleh karena itu, dalam setiap pendidikan, pengetahuan harus ada pendidikan moral dan pembinaan kepribadian yang sehat. Pendidikan seperti itu ada dalam pendidikan Islam. Pendidikan Islam menurut Ashraf (1993) adalah pendidikan yang melatih sensibilitas individu sedemikian rupa, sehingga dalam perilaku mereka terhadap kehidupan, langkah-langkah, keputusan-keputusan, serta pendekatan-pendekatan mereka terhadap semua ilmu pengetahuan mereka diatur oleh nilai-nilai etika Islam yang sangat dalam dirasakan. Mereka dilatih dan secara mental sangat berdisiplin sehingga mereka ingin memiliki pengetahuan bukan saja untuk memuaskan rasa ingin tahu intelektual atau hanya untuk manfaat kebendaan yang bersifat duniawi, tetapi juga untuk tumbuh sebagai makhluk yang rasional, berbudi, dan menghasilkan kesejahteraan spiritual, moral, dan fisik keluarga mereka, masyarakat, dan umat manusia (Ashraf, 1993).
Untuk itu, pendidikan Islam harus mulai diperkenalkan, diajarkan, dan dibiasakan sejak dini. Pelaksanaannya harus dimulai sejak di dalam lingkungan keluarga dan berlanjut ke lingkungan masyarakat.
Penerapan pendidikan Islam hanya bisa terlaksana dalam rumah tangga Islami yang bertujuan menciptakan Rumahku Surgaku / Baiti Jannati. Bentuk penerapan pendidikan Islam dalam keluarga dimulai bukan hanya ketika anak telah lahir ke dunia, tetapi jauh sebelum itu, yaitu sejak pemilihan pasangan hidup, saat kehamilan, pemilihan nama, hingga memilih teman yang baik bagi anak.
Di samping itu, penerapan pendidikan Islam dalam masyarakat bertujuan untuk menciptakan masyarakat yang sholeh sehingga terciptalah kebahagiaan dunia dan akhirat. Bentuk penerapan pendidikan Isalm dalam masyarakat diantaranya membiasakan menolong masayarakat Islam, membina hubungan di kalangan muslim memberi sumbangan dalam perkembangan masyarakat, dan mengukuhkan identitas budaya Islam.

Kata Kunci : Pendidikan Islam, Keluarga, Masyarakat. Read the rest of this entry »

Popularity: 60% [?]

HASIL UJIAN NASIONAL
Apr 27th, 2010 by admin

Hasil ujian nasional (UN) untuk tingkat SMA/SMK telah diumumkan pada Senin, 26 April 2010. Sudah menjadi hukum alam, hasil dari ujian inipun terbagi menjadi dua kelompok, yaitu mereka yang lulus dan tidak lulus. Secara nasional terdapat 154.079 siswa tidak lulus atau sekitar 10% dari total peserta ujian yang mencapai 1.522.162 siswa.
Hal yang perlu mendapat perhatian kita adalah bagaimana suasana dan ekspresi yang ditunjukkan oleh anak-anak kita sesaat dan setelah pengumuman UN itu diterima. Hampir seluruh anak-anak didik kita bahkan para orang tua dan guru mereka “STRESSSS” menunggu pengumuman UN keluar, karena ini menyangkut nasib dan masa depan mereka. Bisa dibayangkan sekitar 1,5 juta anak-anak muda kita (calon penerus bangsa) megalami kondisi stress massal. Bahkan kondisi stress ini bisa terjadi pada saat mereka akan menghadapi UN yang lalu. Itu berarti anak-anak kita hampir selama satu bulan berada dalam suasana stress.
Kondisi stress memuncak dan meledak pada saat mereka menerima pengumuman hasil UN dan dinyatakan TIDAK LULUS. Tidak sedikit diantara mereka yang berteriak histeris, pinsan bahkan ada juga yang melalukan “pemberontakan”. Sebaliknya mereka yang dinyatakan LULUS langsung mengekspresikan kegembiraannya dengan melakukan “pesta” corat-coret baju bahkan pada sekujur tubuh dengan spidol dan cat dan dilanjutkan dengan arak-arakan (konvoi) motor di jalan raya, yang pasti mengganggu ketertiban umum. Iya memang ini dilakukan oleh sebagian kecil anak-anak didik kita. Tapi bagaimanapun juga ini menggambarkan hasil dari pendidikan kita yang diuji dengan menggunakan model UN. Hal yang ingin saya pertanyakan adalah apakah iya anak-anak seperti di atas – yang dinyatakan telah LULUS dari suatu satuan pendidikan yang memiliki standar kompetensi lulusan yang sesungguhnya sangat ideal – adalah yang anak-anak yang kita harapkan? Apakah iya UN telah mampu menilai anak-anak didik kita sehingga pantas dinyatakan LULUS sesuai dengan standar kompetensi lulusan secara komprehensif?
Mari kita renungkan lebih jauh…..

Popularity: 56% [?]

MODELS OF TEACHING BASE ON LIVING VALUE IN ISLAMIC SCHOOL
Apr 1st, 2010 by admin

Dwikoranto
Physics Educations of FMIPA Unesa
Campus Unesa Jl. Ketintang Surabaya 60231 Telp.(031) 8289070
E-mail: dwi_bsc.saja@yahoo.co.id

ABSTRAC
Problems of ethic kindness recently is intensively talked by various media. Society, old fellow, observer of education feel there is changing in arranging tata krama have, ethics and my behavior from our students. To the number of behavioral school childrens of me digress which do not is righteously conducted, have an affair the abundantness, play internet which digressing, habit smoke which was gone to at usage of forbidden drug, quarrel between group, are something that often we see and we meet in good media print and electronic. Society in the case of driving earn us tell awareness of consumer walke very less, do not care to user/ wearer of other road;street. In have organization to discuse people proxy show person which have wise do not and wisdom. Symptom whether/ what this, is education of us fail to, or the educator of which cannot digugu dan ditiru, or creation of cipta, rasa dan karsa to student have insignificant. Father teaching education of Ki Hajar Dewantoro attendance of longed. Do influence of media a period to which do not be controlled. Some anxious society element and care with this matter have done fortifying of this adolescent mischief pass education base on Islamic fullday school. This article try a little a little problem of forming of ethic kindness through study base on religious islam and universal values.
Keyword : models of teaching, living value, Islamic school. Read the rest of this entry »

Popularity: 57% [?]

Liku-liku Ujian Nasional
Mar 22nd, 2010 by admin

Halaman ini berisi berita tentang liku-liku Ujian Nasional yang dilihat dari sisi siswa SMA/SMK. Berita dikutip dari Liputan6.com dan okezone.com. Halaman ini hanya ingin menggambarkan betapa hiruk pikuknya anak-anak kita dalam menghadapi ujian, karena ujian nasional akan sangat menentukan “nasib” mereka di masa datang. Read the rest of this entry »

Popularity: 57% [?]

»  Substance: WordPress   »  Style: Ahren Ahimsa